Tampilkan postingan dengan label Tafsir Alquran - Hadist - Ijma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir Alquran - Hadist - Ijma. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Februari 2017

Buat Anda yang Suka menghina UNTA ! Tenyata Ini Keajaiban yang Dimiliki Unta






ALLAH telah menciptakan makhluk hidup di dunia ini dengan berbagai keunikan dan kesempurnaan. Allah menciptakan manusia, tumbuhan dan hewan yang saling menguntungkan satu sama lain. Banyak makhluk yang Allah ciptakan di dunia ini. Dan Allah telah memerintahkan kita untuk berpikir mengenai keagungannya yang tiada tara agar kita pandai bersyukur.

Allah memerintahkan kepada kita untuk melihat dan memperhatikan makhluk Allah yang Maha Kuasa. Allah berfirman:

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ؟

“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan”, (Al-Ghasyiah:18).

Jika kita melakukan kajian tentang unta maka akan kita dapatkan banyak keajaiban.
Bahwa unta mampu menahan panas hingga 70 derajat Celsius di atas nol, dan unta berpunuk dua
sehingga menahan rasa dingin hingga 40 derajat hingga berada di bawah nol sekalipun. Dan unta dapat minum air segar dan air garam.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6DLXKr5mZy50goeOBftpgzzD0RbBDIzKnQpVXRrpxhcnCt7d51y-3zTJGaLfD_Ov5FewskXJMN3dDKtV0v9gSxfdBTRyX2okPHzp839x_ajEsG3YGmc2j_0_HKOJtgbVE1IsebzW02KZJ/s400/4.jpg

sebagaimana unta memiliki kemampuan dan daya tahan untuk menahan haus selama lebih dari sebulan. Sebagaimana unta dapat berjalan di padang gurun bagaimanapun kondisinya seperti debu, badai dan panas yang menyengat. MasyaAllah…

Mahabesar Allah dengan segala apa yang telah diciptakannya. Ini membuktikan bahwa Dia-lah Sang Maha Pencipta. Raja dari segala raja. Dan yang maha menghendaki segala sesuatu terjadi.


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Inilah Sebab Mengapa Dinamakan Masjidil Haram

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgqENmrL8gupmatcFUH_lVAzZ93M7qu-fUPIXYTUJLUD__a1BvkJz7Y6FP1L7YCE6Tm7OlepfnCjNDLZaY-xGkx8QaBdsAi40EDJHjaDdK8uAi7iqPDM1tpTV2c-Tr9yR1pKKaMW8Ikv_HF/s1600/ka'bah.jpg



MASJIDIL Haram adalah sebuah masjid di kota Mekkah, yang dipandang sebagai tempat tersuci bagi umat Islam. Masjid ini juga merupakan tujuan utama dalam ibadah haji. Masjid ini dibangun mengelilingi Ka’bah, yang menjadi arah kiblat bagi umat Islam dalam mengerjakan ibadah Shalat. Masjid ini juga merupakan Masjid terbesar di dunia.

Berkaitan dengan Masjidil Haram, tahukah Anda mengapa masjid ini dinamakan Masjidil Haram?
Masjidil Haram dalam bahasa Arab: المسجد الحرام artinya masjid yang memiliki tanah haram. Kenapa dinamakan tanah haram, para ulama mengatakan karena di dalam tanah itu berlaku berbagai ketentuan yang mengharamkan kita melakukan berbagai hal, seperti berburu, mengangkat senjata, mematahkan tumbuhan dan seterusnya, termasuk juga haram untuk dimasuki oleh kafir.
Berikut penjabaran alasan disebut tanah haram:

1. Haram Dimasuki Orang Kafir
Dasar larangan bagi orang non muslim untuk memasuki wilayah al-haram di Makkah Al-Mukarramah adalah sebuah firman Allah SWT di dalam surat At-Taubah.
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini,” (QS. At-Taubah: 28)
Kenajisan orang musyrik ini memang bukan najis ‘aini, sehingga jasad orang musyrik pada dasarnya tetap suci, bahkan bekas minum mereka pun tidak najis. Namun kenajisan mereka adalah najis secara maknawi.

2. Batas Tanah Haram
Sedangkan batas tanah haram yang berlaku semua ketentuan tentang tanah haram itu adalah batas miqat makani sebagaimana yang berlaku buat jamaah haji. Maka para batas-batas miqat itulah seorang non muslim sudah tidak boleh lagi masuk ke dalamnya.

Di sebelah timur ada Dzatu ‘Irqin, yaitu batas orang yang masuk dari arah negeri Iraq. Bergeser ke Selatan masih di timur ada Qarnul Manazil. Paling selatan, yaitu dari arah negeri Yaman, ada Yalamlam. Sedangkan dari arah utara, beberapa kilometer dari Kota Madinah, ada Bi’ru Ali, atau disebut juga dengan Dzil Hilaifah. Di sebelah Barat ada Juhfah atau disebut juga Rabigh. Maka kota Makkah seluruhnya tentu saja termasuk wilayah tanah haram. Artinya, orang kafir tidak boleh masuk wilayah ini.

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEI3-QZ9OKg2bKxvyoP-xwSLG2uoTzWuEdB2Z4SnKp225RoXwCsfwFS-eqofN8ZrbK_SoWvm9_iX77mmnqcgI-h_2EPMsblGGMSg58MHYCRSU8KmHPHWo-42j5tqiJoktlM-zubAQqoNw/s1600/Al+masjidil+haram+cygnuscool.blogspot.com.jpg

3. Ketentuan Terkait dengan Wilayah Al-Haram
Selain tidak boleh dimasuki oleh non muslim, tanah Al-Haram di Makkah juga memiliki ketentuan-ketentuan lainnya, antara lain:

1. Shalat di wilayah Al-Haram Makkah akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda, yaitu
100.000 kali. Hal itu sebagaimana yang ditetapkan oleh Baginda Rasulullah SAW:
Dari Jabir radhiallahu’anhu sesunggunya Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Shalat di masjidku, lebih utama seribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya kecuali Masjidil haram. Dan shalat di Masjidilharam lebih utama seratus ribu (dibandingkan) shalat di selainnya.“ (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, no. 1406. Hadits dishahihkan oleh Al-Mundziri dan Al-Bushoiry. Al-Albany berkata: “Sanadnya shahih sesuai persyaratan Bukhori dan Muslim, Irwaul Ghalil, 4/146).

2. Tidak ada larangan untuk melakukan shalat kapan pun, bahkan termasuk pada waktu-waktu yang sebenarnya haram untuk melakukan shalat. Seperti pada saat matahari terbit, terbenam atau pas di atas kepala. Nabi Muhammad SAW telah bersabda:

Dari Jubair bin Muth’im bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Wahai Bani Abdi Manaf [1], janganlah kalian melarang seoranpun yang akan thawaf (mengelilingi tujuh kali) sekitar Ka’bah, dan seorang yang akan menunaikan shalat pada waktu malam atau siang,” (HR Abu Daud dan Nasa’i, dan Tirmidzi dan Ibnu Majah dan di shahihkan al-Albani).

3. Haram Membawa Senjata
Di tanah Haram Makkah, haram hukumnya membawa senjata. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu, ia berkata : saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Tidak diperbolehkan bagi kalian membawa senjata [2] di Makkah,” (HR Muslim).

4. Haram Menumpahkan Darah (Pembunuhan) dan Mematahkan Tumbuhan
“….maka sejak itu (negeri Makkah) haram dengan keharaman Allah hingga hari kiamat, duri-durinya tidak boleh dipatahkan, binatang buruannya tidak boleh di usir (diganggu), barang yang jatuh di Makkah tidak boleh diambil, kecuali untuk mencari (pemiliknya), tumbuh-tumbuhannya tidak boleh ditebang…..,” (HR Bukhari dan Muslim)

Seluruh umat islam diperintah untuk memalingkan wajahnya dan hatinya kearah masjidil haram dimanapun berada, hal ini di perkuat dengan surah al-Baqarah ayat 149 dan 150. Perintah ini hampir sama derajatnya dengan perintah Allah yang lain seperti hal melakukan sholat, zakat, puasa, haji sebagai wujud hati yang terikat dan ingat kepada Allah dalam segala hal duniawi ini.
Sebagaimana dalam firman Allah SWT berikut ini:

“Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan,” (QS.al-Baqarah:149)

“Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk,” (QS.al-Baqarah:150) [3]

Keterangan:
[1] Rasulullah mengkhususkan sabdanya ini kepada Bani Abdi Manaf karena beliau mengetahui bahwa pemerintahan dan kekuasaan di Makkah kembali pada mereka, karena mereka adalah pemimpin-pemimpin Makkah, dan urusan-urusan dalam haji (menjamu jamaah haji dengan memberikan minum, makanan, pengamanan) mereka yang melakukannya. (Kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami Tirmidzi, cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H, hal 531 juz 3, pen).
[2] Larangan ini jika tidak ada hajat kebutuhan membawa senjata, jika ada hajatnya maka diperbolehkan. (Syarh Shahih Muslim Imam Nawawi, hal 130-131, juz 9 jilid ke 5 cetakan Daarul fikr, pen).
[3] Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (S. 2: 150) sehubungan dengan peristiwa berikut: Ketika Nabi SAW memindahkan arah qiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah, kaum Musyrikin Mekkah berkata: “Muhammad dibingungkan oleh agamanya. Ia memindahkan arah qiblatnya ke arah qiblat kita. Ia mengetahui bahwa jalan kita lebih benar daripada jalannya. Dan ia sudah hamir masuk agama kita.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi melalui sanad-sanadnya.)


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Minggu, 05 Februari 2017

Jogging 5 Km Kuat, Ke Masjid 100 m Gak Kuat ?


Jogging 5 Km Kuat, Ke Masjid 100 m Gak Kuat
APA HARUS DIANTER TETANGGA?


Dari Ibnu Mas`ud رضي الله عنه berkata:

"Barangsiapa yang ingin bertemu dengan Allah kelak (dalam keadaan) sebagai seorang muslim, maka hendaklah dia memelihara shalat setiap kali ia mendengar panggilan shalat. Sesungguhnya Allah telah mensyariatkan sunnanal huda (jalan-jalan petunjuk) dan sesungguhnya shalat berjama`ah merupakan bagian dari sunnanul huda. Apabila kamu shalat sendirian di rumahmu seperti kebiasaan shalat yang dilakukan oleh seorang mukhallif (yang meninggalkan shalat berjama`ah) ini, berarti kamu telah meninggalkan sunnah nabimu, apabila kamu telah meninggalkan sunnah nabimu, berarti kamu telah tersesat. Tiada seorang pun yang bersuci (berwudhu`) dengan sebaik-baiknya, kemudian dia pergi menuju salah satu masjid melainkan Allah mencatat baginya untuk setiap langkah yang diayunkannya satu kebajikan dan diangkat derajatnya satu tingkat dan dihapuskan baginya satu dosa. Sesungguhnya kami berpendapat, tiada seorang pun yang meninggalkan shalat berjama`ah melainkan seorang munafik yang jelas-jelas nifak. Dan sesungguhnya pada masa dahulu ada seorang pria yang datang untuk shalat berjama`ah dengan dipapah oleh dua orang laki-laki sampai ia didirikan di dalam barisan shaff shalat berjama`ah." (H.R. Muslim)

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رضي الله عنه قَالَ ((مَنْ سَرَّهُ أنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى وَإنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَعْمِدُ إلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إلاّ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً وَلَقَدْ رَأيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إلاّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ )). رواه مسلم

Apakah Suami Menanggung Semua Dosa Istri?


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJ_6hGUBj0nompeNR78VTEKFdrD31eGF8eqKNYXyJ8uTr9Uu22NHczJG5Ini4lf5p2xwlE6YuLTKzUx0yis-4Hs2gnU_iig2kj9PJH8OuVDlASHivKkZZVOjPVgpswphdSgLmiV3mXhC4/s320/istericurang.jpg

Apakah suami menanggung dosa istri ketika istri tidak berjilbab atau membuka aurat di depan orang lain?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kaidah secara umum yang disebutkan Allah dalam al-Quran,

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

Seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain.

Pernyataan ini Allah sebutkan 4 kali dalam al-Quran, di surat al-An’am: 164, al-Isra: 15, Fathir: 18, dan az-Zumar: 7.

Karena setiap jiwa menanggung amalnya sendiri-sendiri.

Allah berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

“Setiap jiwa tergadaikan dengan amalnya.” (QS. al-Muddatsir: 38).

Termasuk maksiat yang dilakukan seseorang, dia sendiri yang akan menanggungnya. Bukan orang lain.

Mendapat Cipratan Dosa

Hanya saja, bisa saja orang mendapatkan cipratan dosa, karena maksiat yang dilakukan orang lain.
Dan itu terjadi karena beberapa sebab. Diantaranya,

Pertama, Menjadi pelopor maksiat

Gara-gara keberadaan orang ini, masyarakat menjadi kenal maksiat. Atau semakin berani melakukan maksiat. Sehingga dia turut mendapatkan saham dosa dari semua orang yang terpengaruh dengannya dalam melakukan maksiat.

Karena yang Allah catat dari kehidupan kita, tidak hanya aktivitas dan amalan yang kita lakukan, namun juga dampak dan pengaruh dari aktivitas dan amalan itu.

Allah berfirman di surat Yasin,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Dalam hadis dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan nilai dosa akibat menjadi pelopor maksiat,

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء

“Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim 2398).

Orang ini tidak mengajak lingkungan sekitarnya untuk melakukan maksiat yang sama. Orang ini juga tidak memotivasi orang lain untuk melakukan perbuatan dosa seperti yang dia lakukan. Namun orang ini melakukan maksiat itu di hadapan banyak orang, sehingga ada yang menirunya atau menyebarkannya.

Karena itulah, anak adam yang pertama kali membunuh, dia dilimpahi tanggung jawab atas semua kasus pembunuhan karena kedzaliman di alam ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا

“Tidak ada satu jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak adam yang pertama kali membunuh akan mendapatkan dosa karena pertumpahan darah itu.” (HR. Bukhari 3157, Muslim 4473 dan yang lainnya).

Kedua, mengajak orang lain melakukan maksiat

Dia mengajak masyarakat untuk bermaksiat, meskipun bisa jadi dia sendiri tidak melakukannya. Merekalah para juru dakwah kesesatan, atau mereka yang mempropagandakan kemaksiatan.

Allah berfirman, menceritakan keadaan orang kafir kelak di akhirat, bahwa mereka akan menanggung dosa kekufurannya, ditambah dosa setiap orang yang mereka sesatkan,

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada hari kiamat, dan berikut dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). (QS. an-Nahl: 25)

Imam Mujahid mengatakan,

يحملون أثقالهم: ذنوبهم وذنوب من أطاعهم، ولا يخفف عمن أطاعهم من العذاب شيئًا

Mereka menanggung dosa mereka sendiri dan dosa orang lain yang mengikutinya. Dan mereka sama sekali tidak diberi keringanan adzab karena dosa orang yang mengikutinya. (Tafsir Ibn Katsir, 4/566).

Ayat ini, semakna dengan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR. Ahmad 9398, Muslim 6980, dan yang lainnya).

Ketiga, Membiarkan kemunkaran terjadi di tengah keluarganya, padahal dia mampu mengingatkannya
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan kita untuk mengingkari kemungkaran yang ada di hadapan kita. Baik dengan tangan, lisan, atau minimal hatinya membenci.

Dalam hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Siapa yang melihat kemungkaran hendaklah meluruskannya dengan tangannya, maka jika tidak sanggup (hendaklah meluruskan) dengan lisannya, jika tidak sanggup (hendaklah dia meluruskan) dengan hatinya dan ini adalah iman yang paling lemah.” (HR. Muslim 49).

Bagian dari pengingkaran terhadap kemungkaran itu adalah menjauhinya dan bergabung dengan pelaku kemungkaran. Allah ingatkan para hamba-Nya untuk tidak kumpul dengan orang munafiq,

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آَيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ

“Sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sungguh (jika kalian tidak menyingkir), berarti kalian serupa dengan mereka.” (QS. an-Nisa: 140)

Allah sebut, orang yang ikut nimbrung bersama orang kafir atau orang munafiq dalam melakukan kekufuran dengan “jika kalian tidak menyingkir, berarti kalian serupa dengan mereka.”

Al-Qurthubi mengatakan,

فَدَلَّ بِهَذَا عَلَى وُجُوبِ اجْتِنَابِ أَصْحَابِ الْمَعَاصِي إِذَا ظَهَرَ مِنْهُمْ مُنْكَرٌ ؛ لِأَنَّ مَنْ لَمْ يَجْتَنِبْهُمْ فَقَدْ رَضِيَ فِعْلَهُمْ ، وَالرِّضَا بِالْكُفْرِ كُفْرٌ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلّ : (إِنَّكُمْ إِذاً مِثْلُهُمْ) . فَكُلُّ مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسِ مَعْصِيَةٍ وَلَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِمْ يَكُونُ مَعَهُمْ فِي الْوِزْرِ سَوَاءً

Ayat ini menunjukkan wajibnya menjauhi pelaku maksiat ketika mereka menampakkan kemungkaran. Karena orang yang tidak menjauhi kemungkaran mereka, berarti ridha dengan perbuatan mereka. Dan ridha dengan perbuatan kekufuran adalah kekufuran. Allah menegaskan, “Berarti kalian seperti mereka.” Sehingga semua yang duduk bersama di majlis maksiat, dan tidak menghingkarinya, maka dosa mereka sama. (Tafsir al-Qurthubi, 5/418).

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBZCgBdF95x0WH0NFbE9WWIu0WPOVfdwNKdZFGWJgvbwJbvwa5BMzzKeWm6Hc1Wi1nIpPb33gvHR6WJIznTvb_FD5-B5tndn0032OrWJVy5KT-pJYmrlpZrfoEDxyT3KpXV_jhefFFBdg/s640/Tabiat+Istri+pengaruhi+kerja+suami+-Dunia+Wanita.jpg

Hubungan Suami, Istri & Anak

Ketika suami sebagai kepala rumah tangga, membiarkan istrinya atau putrinya bermaksiat, menampakkan aurat, maka kepala keluarga turut mendapatkan dosanya. Karena berarti dia menyetujui kemaksiatan yang dilakukan keluarganya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memberikan ancaman keras bagi suami semacam ini, dan beliau sebut dengan gelar dayuts (lelaki tanpa cmburu).

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ، وَالدَّيُّوثُ

Ada tiga orang yang tidak akan Allah lihat pada hari kiamat: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang meniru gaya lelaki, dan dayuts. (HR. Ahmad 6180, Nasai 2562, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Mengenai pengertian dayuts, dalam kamus al-Misbah dinyatakan,

أن الديوث هو الرجل الذي لا غيرة له على أهله

Dayuts adalah lelaki yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap istrinya. (al-Mishbah al-Munir, madah: da – ya – tsa).

Berbeda ketika suami telah mengingatkan istrinya atau putrinya untuk meninggalkan yang terlarang, sudah diberi peringatan, bahkan ancaman dan hukuman, namun mereka tetap melanggar, dan suami tidak bisa mengambil tindakan apapun, maka suami tidak menanggung dosa mereka.

Sebagaimana ini yang terjadi pada Nabi Nuh dan Nabi Luth. Istri kedua orang soleh ini mengkhianati suaminya. Mereka turut dihukum oleh Allah, setelah Allah menyelamatkan kedua nabi-Nya – alaihis shalatu was salam –.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits 



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Cara Ampuh Dari Rasulullah SAW Untuk Menyelamatkan Diri dari Dajjal di Akhir Zaman



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3xcWEIZzNNPxlBJBdXp52UnGydyO0xDxge7rJWf0fzXE9t7pM8JaJ7MFazyW7kO3db_Vqwm3bYNakniDU1bmyk4uBkqPDkRqRiJGtRmucVlZ8mBfAuvMvixrrTQnzRYtqumOXPLjQKv0/s1600/dajjal.jpeg

TELAH dijelaskan sebelumnya bahwa menjelang kemunuculan Dajjal, kaum muslim memiliki kekuatan besar dan ikut serta dalam peperangan dan berhasil menang. Dajjal datang guna menghancurkan kekuatan Islam yang telah berhasil mengalahkan negara terkuat pada saat itu, yakni bangsa Romawi. Kaum muslim juga berhasil merebut kembali Konstantinopel.

Pada saat itu, setan berteriak bahwa ia telah menjamin (harta) anak keturunan kaum muslim, sehingga mereka meninggalkan harta ganimah dan kembali ke kampung halaman mereka. Kemudian Dajjal muncul, maka kaum muslim tidak meletakkan senjata mereka. Karena itu, pada saat Isa turun, ia melihat kaum muslim “bersiap-siap perang dan merapatkan barisan.” Tak ragu lagi, pada saat itu, setiap muslim bergabung dengan kekuatan Islam yang memanggul bendera jihad fi sabilillah dan siap teguh di atas kebenaran, apa pun ujian yang menimpa. Inilah yang diwasiatkan oleh Rasulullah SAW yang menceritakan kemunculan Dajjal, “Ia muncul di suatu daerah di antara Syam dan Iraq. Ia merusak ke kanan dan ke kiri. Wahai hamba Allah bersiteguhlah!”

Setiap muslim tidak diperbolehkan mendatangi Dajjal, walau pun ia percaya pada dirinya sendiri. Sebab, Dajjal memiliki tipu daya yang dapat mengguncangkan iman. Dalam Sunan Abi Dawud diriwayatkan dengan sanad sahih dari Imran ibn Hushain bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa mendengar ada Dajjal, hendaklah ia menjauhi dirinya. Demi Allah, seorang lelaki mendatanginya dengan rasa percaya diri sebagai seorang mukmin, namun akhirnya ia mengikuti Dajjal, karena tipu daya yang dilakukannya.”

Orang yang tidak mampu melawannya boleh lari. Inilah yang dilakukan oleh kebanyakan orang pada saat itu. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan bahwa Ummu Syarik berkata, “Aku mendengar Nabi SAW bersabda, ‘Orang-orang akan lari ke gunung karena (takut) Dajjal’.”

Bila seorang mukmin terpaksa menghadapinya, ia harus melawan dengan kebenaran dan hujjah (argumentasi yang kuat). Dalam hadits disebutkan, “Bila ia (Dajjal) muncul dan aku bersama kalian, aku akan berdebat dengannya. Bila ia muncul saat aku tidak bersama kalian, seseorang akan berdebat dengannya, dan Allah menjadi penggantiku atas setiap muslim.”

Rasulullah SAW memberikan pengetahuan tentang Dajjal. Dajjal memiliki fisik yang kasat mata, makan, minum, sedangkan Allah tidak dapat dilihat di dunia, suci dari makan dan minum. Dajjal memiliki cacat di matanya. Dalam hadits dinyatakan, “Ia adalah pemuda berambut keriting pendek, matanya menonjol seolah-olah ia mirip dengan Abdul ‘Uzza ibn Quthn.

http://www.muslimdaily.co/wp-content/uploads/2012/09/mengenal-dajal.jpg

Karenanya, klaim orang yang demikian sebagai Tuhan merupakan dusta dan kebohongan. Rasulullah SAW memerintahkan orang yang bertemu dengannya agar membaca awal surat al-Kahfi. Sabda Rasul SAW, “Siapa yang menemuinya, hendaklah ia membaca surat al-Kahfi.”

Dalam hadits Abu Umamah dinyatakan, “Sesungguhnya di antara fitnahnya, ia (Dajjal) memiliki surga dan neraka. Nerakanya adalah surga, surganya adalah neraka. Siapa diuji dengan nerakanya, hendaklah ia mohon pertolongan kepada Allah dan membaca awal surat al-Kahfi …”

Dalam hadits shahih disebutkan, “Orang yang hafal sepuluh ayat dari surat al-Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal.”

Menurut sebagian hadits, diterangkan bahwa yang dimaksud adalah awal surat al-Kahfi, dan menurut sebaian lagi adalah akhir surat al-Kahfi.

Kenapa membaca awal dan akhir surat al-Kahfi dapat melindungi kita dari Dajjal? Sebagian ulama menjawab: Itu karena Allah memberitahukan di awal surat ini bahwa Allah melindungi para pemuda al-Kahfi dari penguasa lalim yang hendak membinasakan mereka. Jadi, Allah menghubungkan bahwa keadaan orang yang membaca ayat-ayat ini sama seperti keadaan para pemuda itu, yakni diselamtkan dari Allah.

Ada lagi pendapat yang menyatakan bahwa itu karena di awal surat al-Kahfi ada keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda yang meneguhkan hati orang yang membacanya, sehingga ia tidak terkena fitnah Dajjal, serta tidak merasa aneh, tidak tertipu dan tidak terpengaruh dengan apa yang di bawa Dajjal.

Di antara hal yang dapat melindungi kaum muslim dari Dajjal adalah berlindung ke Mekkah atau Madinah, karena Dajjal tidak masuk ke dalam kota tersebut.

Rasulullah SAW telah menyebutkan kepada kita bagaimana orang laki-laki yang shaleh itu menghadapi Dajjal dengan kebenaran dan ia bersikap dan berkata tegas kepada Dajjal, sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas.

Hal lain yang dapat menyelamatkan diri dari Dajjal adalah berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal. Hadits-hadits nabi memerintahkan seorang muslim untuk berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal. Dalam Shahih al-Bukhari diriwayatkan bahwa Aisya berkata, “Aku mendengar Rasulullah berlindung dalam shalatnya dari fitnah Dajjal.”

Rasulullah SAW selalu bertaawuz dari fitnah Dajjal setelah tasyahud. Beliau berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari azab jahannam, azab kubur, fitnah hidup dan mati, serta fitnah Almasih Dajjal.”

Sumber

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Ini Cara Menjadi Salah Satu Dari Golongan Masuk Surga Tanpa Hisab dan Adzab, Mau?




Di antara orang yang masuk surga, ada yang langsung masuk ke dalamnya ada pula yang harus menunggu lama, dan ada juga yang harus mampir dulu ke neraka. Jika bisa memilih pastilah kita menginginkan masuk surga tanpa harus menunggu, tanpa harus mampir neraka, namun langsung masuk saja, tanpa dihisab tanpa diadzab. Bagaimana caranya? Berikut dijelaskan pembahasanya.

Bertauhid dengan benar

Saudaraku, tauhid adalah tujuan hidup kita. Tauhid merupakan ilmu yang paling agung, kewajiban yang paling wajib, dan perintah Allah yang terbesar. Oleh karena itulah, keistimewaan yang didapatkan oleh Al-Muwahhidin (orang-orang yang mentauhidkan Allah) itu banyak dan sangat besar.
Di antara keutamaan yang didapatkan oleh mereka adalah,
  • Ahli Tauhid mendapatkan keamanan dan hidayah,
  • Tempat kembalinya adalah Surga, Allah Ta’ala menyelamatkannya dari neraka,
  • Ahli Tauhid mendapatkan kesempatan diampuni seluruh dosa-dosanya,
  • Timbangan tauhid beratnya mengalahkan timbangan langit dan bumi.
Dan puncak keutamaan yang dianugerahkan kepada Ahli Tauhid adalah mendapatkan kesempatan masuk Surga tanpa hisab dan tanpa adzab.

Orang-orang yang tak dihisab dan tak diadzab

Hadits berikut ini menggambarkan kelompok orang-orang yang mendapatkan puncak keutamaan yang dianugerahkan oleh Allah kepada Ahli Tauhid, yaitu, masuk Surga tanpa hisab dan tanpa adzab.
Hushain bin Abdurrahman berkata bahwa Sa’id bin Jubair berkata, “Siapakah di antara kalian yang melihat bintang jatuh semalam?” 

Akupun menjawab “Saya.” 

Lalu saya berkata, “Adapun saya ketika itu tidak sedang salat, tapi terkena sengatan hewan berbisa”.

Kemudian ia bertanya, “Lalu apa yang anda kerjakan?” Saya pun menjawab, “Saya minta diruqyah1“.

Ia bertanya lagi, “Apa yang mendorong anda melakukan hal tersebut?”

“Sebuah hadits yang dituturkan Asy-Sya’bi kepada kami.” jawabku.
Iapun bertanya lagi, “Apakah hadits yang dituturkan oleh Asy-Sya’bi kepada anda?” 

Saya menyampaikan, “Dia menuturkan hadits dari Buraidah bin Hushaib, bahwa ia berkata, ‘Tidak ada ruqyah yang lebih bermanfaat kecuali untuk penyakit ‘ain2 atau terkena sengatan hewan berbisa.'”

Sa’id berkata, “Alangkah baiknya orang yang beramal sesuai dengan dalil yang didengarnya, namun Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu menuturkan kepada kami hadits dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. 

Beliau bersabda, “Aku telah diperlihatkan beberapa umat oleh Allah, lalu aku melihat seorang Nabi bersama beberapa orang (tidak sampai 10 orang, pent.), seorang Nabi bersama seseorang dan dua orang, serta seorang Nabi yang sendirian. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku sekelompok orang yang sangat banyak. Aku mengira mereka itu umatku, namun disampaikan kepadaku, ‘Itu adalah Nabi Musa dan kaumnya.’ 

Selanjutnya, tiba-tiba aku melihat lagi sejumlah besar orang, dan disampaikan kepadaku, ‘Ini adalah umatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.’ Kemudian beliau bangkit dan masuk rumah. Orang-orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu. 

Ada di antara mereka yang mengatakan, ‘Barangkali mereka itu sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.’ Ada lagi yang mengatakan, ‘Barangkali mereka orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam dan tidak pernah menyekutukan Allah.’ dan mereka menyebutkan yang lainnya pula. 

Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam keluar, mereka memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Lalu beliau bersabda,

هُمُ الَّذِينَ  لاَ يَسْتَرْقُونَ وَ لاَ يَكتوونَ وَ لاَ يَتَطَيَّرُونَ وَ عَلَى رَبِّـهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka itu adalah orang yang tidak pernah minta diruqyah, tidak melakukan kay3  dan tidak pernah melakukan tathayyur4 serta mereka bertawakkal5 hanya kepada Rabb mereka.”

Kemudian Ukkasyah bin Mihshon berdiri dan berkata, ‘Mohonkanlah kepada Allah, agar saya termasuk golongan mereka!’ Beliau menjawab, ‘Engkau termasuk mereka’, 

Kemudian berdirilah seseorang yang lain dan berkata, ‘Mohonkanlah kepada Allah, agar saya termasuk golongan mereka!’ Beliau menjawab,’ Ukkasyah telah mendahuluimu'” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Kiat masuk surga tanpa hisab tanpa adzab

Seorang muslim yang baik, ketika membaca hadits yang agung di atas, tentu menginginkan menjadi salah satu dari tujuh puluh ribu orang yang beruntung tersebut. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika beberapa pertanyaan muncul, ketika seorang muslim berusaha memahami hadits yang disebutkan di atas, karena demikian semangatnya untuk masuk Surga tanpa hisab dan tanpa adzab.

Perlu diketahui bahwa masuk Surga tanpa hisab dan tanpa adzab adalah ganjaran yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang berhasil mentauhidkan-Nya dengan sempurna (Tahqiiqut Tauhid).

Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah dalam kitab Tauhid nya, menyebutkan hal ini dengan ucapannya,

باب من حقق التوحيد دخل الجنة بغير حساب

“Bab, Barangsiapa yang merealisasikan tauhid dengan sempurna, maka masuk kedalam surga tanpa hisab”.

Dan barangsiapa yang masuk kedalam surga tanpa hisab, pastilah masuk surga tanpa adzab, namun barangsiapa yang masuk kedalam surga tanpa adzab, belum tentu masuk surga tanpa hisab.
Dengan demikian, untuk menjadi kelompok orang-orang yang masuk Surga tanpa hisab dan tanpa adzab, haruslah bisa merealisasikan tauhid dengan sempurna. Selanjutnya, pertanyaan menarik yang perlu dilontarkan adalah Bagaimanakah menjadi orang yang merealisasikan tauhid dengan sempurna (tahqiq tauhid)?

Praktik Tauhid yang Sempurna

Mempelajari tentang definisi Tahqiiq At-Tauhiid (perealisasian Tauhid dengan sempurna) adalah perkara yang sangat penting guna memahami dalil-dalil tentang ciri khas golongan yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Hal ini dikarenakan beberapa alasan berikut ini:
  1. Sifat sebuah definisi adalah jami’ dan mani’. Jami’ yaitu mengumpulkan segala sesuatu yang tercakup di dalam lafaz yang didefinisikan tersebut. Sedangkan mani’ yaitu mencegah dan membatasi agar perkara yang di luar cakupan definisi dari lafaz tersebut tidaklah dimasukkan kedalam cakupan lafaz tersebut.
  1. Dengan Taufik Allah, seseorang bisa menggunakan definisi tersebut untuk mengelompokkan ciri-ciri orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab yang disebutkan dalam sebuah dalil, sesuai dengan tingkatan Tahqiiq At-Tauhid masing-masing yang ditunjukkan dalil tersebut. Sehingga ketika seseorang terluput dari salah satu ciri khas tersebut, maka bisa diketahui apakah ia keluar dari golongan yang masuk Surga tanpa hisab dan tanpa adzab ataukah tidak?

 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEigNHye1S04Jxfms44Yl6TAcLZm9qjhhYqASJ5C4oz9ICuWV9cnNoclH_aTbDzqEExCdyJlfJBhCC1OEvsQiNDUCj3TqbqmvxBbJ3rKC89PakVeiWzY0siv4bSoOAMeISidhfGXWdw74CI/s1600/1.jpg

Definisi dan tingkatan perealisasian tauhid

Syaikh Shaleh Alusy-Syaikh hafizhahullah, di dalam kitabnya, At-Tamhiid yang merupakan syarah (penjelasan) kitab Tauhid itu, telah menjelaskan tentang definisi Tahqiiq At-Tauhiid (perealisasian Tauhid dengan sempurna) yang menjadi inti pembahasan hadits yang agung di atas.

Beliau menjelaskan bahwa Tahqiiq At-Tauhiid terbagi menjadi dua tingkatan, beliau mengatakan, “Maka Tahqiiq At-Tauhiid meliputi dua tingkatan, yaitu tingkatan wajib dan tingkatan mustahab (sunnah). Dengan demikian, orang-orang yang merealisasikan Tauhid dengan sempurna meliputi dua tingkatan pula.”

Tingkatan Wajib

Syaikh Shaleh Alusy-Syaikh hafizhahullah menjelaskan bahwa tingkatan yang wajib adalah meninggalkan sesuatu yang wajib ditinggalkan berupa tiga perkara yang telah disebutkan sebelumnya, maka (dengan demikian tingkatan wajib itu) meninggalkan syirik, meninggalkan bid’ah, dan meninggalkan maksiat. Dengan kata lain, Tahqiiq At-Tauhiid  pada tingkatan yang wajib adalah membersihkan agama seseorang dari seluruh dosa, baik dosa syirik, bid’ah maupun kemaksiatan, dengan segala macamnya.

Apakah maksud “bersih dari dosa”?

Berdasarkan penjelasan di atas, inti Tahqiiq At-Tauhiid  pada tingkatan yang wajib adalah bersih dari segala dosa dengan segala macamnya. Sedangkan maksud bersih dari dosa dengan segala macamnya (syirik, bid’ah dan maksiat) adalah seorang hamba meninggal dalam keadaan sudah bertaubat dari seluruh dosa atau dosanya sudah terlebur dengan pelebur (mukaffirat) dosa. Jadi, yang dijadikan patokan di sini adalah akhir hidup seseorang, karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ

“Sesungguhnya amalan itu hanya berdasarkan penutupnya” (HR. Al-Bukhari).

Syaikh Shaleh Alusy-Syaikh hafizhahullah menjelaskan bahwa barangsiapa yang melakukan sesuatu kemaksiatan, dosa atau bid’ah, kemudian belum bertaubat darinya, atau belum terlebur dosanya, maka ia belumlah dikatakan telah merealisasikan tauhid secara sempurna, jenis tingkatan wajib.
Hal ini menunjukkan bahwa yang dijadikan patokan adalah akhir kehidupan, bukan pada kekurangan di awal kehidupan.”

Kesimpulan: 

Tingkatan wajib adalah tingkatan orang-orang yang bersih dari dosa, dengan melaksanakan kewajiban dan meninggalkan keharaman. Tingkatan jenis ini juga disebutkan di dalam sebagian syarah (penjelasan) kitab Tauhid yang lainnya, seperti Fathul Majiid dan Hasyiyah Kitab Tauhiid, tepatnya pada bab “Man haqqaqat Tauhiid dakhalal Jannah bighairi hisab”.

Tingkatan Mustahab (Sunnah)

Syaikh Shaleh Alusy-Syaikh hafizhahullah menjelaskan bahwa

tingkatan mustahab dalam Tahqiiq At-Tauhiid adalah sebuah tingkatan di mana ahli tauhid memiliki keutamaan yang amat berbeda-beda. Dalam tingkatan ini tidak ada suatu arah atau tujuan pada hati seseorang kepada selain Allah. Hati tersebut menghadap kepada Allah secara totalitas, tidak terdapat kecondongan kepada selain Allah, sehingga jika berucap ikhlas karena Allah. Jika bertingkahlaku, ikhlas karena Allah. Jika beramal ikhlas karena Allah, bahkan seluruh gerakan hatinya karena Allah.
Beliau juga menjelaskan bahwa sebagian ulama menjelaskan bahwa tingkatan mustahab adalah meninggalkan sesuatu yang mubah karena khawatir berakibat ada apa-apanya jika dilakukan, maksudnya disini adalah mencakup amal hati, lisan, dan anggota tubuh badan.

Kesimpulan:

Tingkatan mustahab adalah tingkatan orang-orang yang melaksanakan perkara yang wajib dan yang sunnah serta meninggalkan hal yang haram, makruh, dan sebagian hal yang mubah/halal.

Syaikh Shaleh Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan As-Saabiqun bil khairaat (orang-orang yang bersegera dalam kebaikan) dalam kitabnya I’anatul Mustafid bahwa mereka adalah orang-orang yang selamat dari syirik besar maupun kecil. Mereka meninggalkan hal-hal haram dan makruh. Bahkan mereka meninggalkan sebagian hal yang mubah/halal. Mereka bersungguh-sungguh dalam melaksanakan amal ketaatan, baik amal yang wajib maupun yang sunnah. Mereka adalah orang-orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan. Maka barangsiapa yang sampai pada tingkatan ini, maka ia masuk Surga tanpa hisab dan tanpa adzab.

Tingkatan jenis ini juga disebutkan di dalam sebagian syarah kitab Tauhid yang lainnya, seperti: Hasyiyah Kitab Tauhiid dan Taisiir Al-‘Aziiz Al-Hamiid.

Perealisasian Tauhid dengan sempurna adalah perealisasian Syahadatain

Syaikh Shaleh Alusy-Syaikh hafizhahullah, didalam kitabnya At-Tamhiid menjelaskan perealisasian tauhid dengan sempurna adalah perealisasian syahadatain laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah‘, karena pada ucapan seorang Ahli Tauhid laa ilaaha illallaah’, terdapat tuntutan pelaksanaan tauhid dan jauh dari syirik, dengan segala macamnya,

Pada ucapan asyhadu anna muhammadar rasulullah mengandung tuntutan jauh dari kemaksiatan dan bid’ah, hal itu disebabkan karena konsekuensi syahadat Muhammadar Rasulullah adalah taat pada perkara yang diperintahkan oleh rasulullah, membenarkan apa yang beliau infromasikan, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah Allah melainkan sesuai dengan syari’at yang diajarkannya (At-Tamhiid: 33).
 
Wallahu a’lam.
***
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Jumat, 03 Februari 2017

Ternyata, Permintaan Maaf seperti AHOK sudah dijawab ALLAH swt dalam Alquran !




Bagi Yang Suka Memperolok Agama Allah, Allah SWT Berfirman: "Tidak usah kamu minta ma’af"


Pernah gak liat netizen yang ngetik 'takebeer' sebagai olok-olok atas kalimat 'Takbir'? Ada dan banyak..

Pernah liat netizen ngata-ngatain muslim dengan istilah "dasar Onta Arab??" Pernah dan banyak..

Pernah liat mereka-mereka yang suka mengubah-ubah Nama Allah ta'ala, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam dengan maksud bercanda? Pernah dan sering..

Hati-hati, serem konsekuensinya, becandanya aja gak boleh apalagi kalo sampe sengaja..

Bahkan saking seremnya hukuman, sampai Allah SWT mengatakan "Tidak usah kamu minta ma’af". Yang artinya sudah Allah tutup pintu bagi mereka. Na'udzubillah... Kalau Allah SWT sudah menutup pintuNya lantas siapa lagi yang bisa menolong? Tak ada. Tsumma na'udzubillah.




Perhatikan ayat-ayat ancaman Allah SWT ini dalam surat At-Taubah ayat 64-68 yang ditujukan bagi mereka yang suka memperolok-olok Allah, Rasulullah, Kitab Al-Quran, ajaran Islam.

64. Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: "Teruskanlah ejekan-ejekanmu [terhadap Allah dan Rasul-Nya]". Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.

65. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka [tentang apa yang mereka lakukan itu], tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?"

66. Tidak usah kamu minta ma’af, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan daripada kamu [lantaran mereka taubat], niscaya Kami akan mengazab golongan [yang lain] disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.

67. Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.

68. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah mela’nati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal.

Ayat-ayat ini, yang turun 14 abad lampau, seperti baru turun saat-saat ini. Persis kita jumpai perilaku memperolok-olok Allah, Rasulullah, Kitab Al-Quran, ajaran Islam. Semoga kita semua terlindung dari murka Allah yang menutup dan menghardik "Tidak usah kamu minta maaf".

MAHA BENAR ALLAH DENGAN SEGALA FIRMANNYA.

[Eson Jumarsono]

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Kamis, 02 Februari 2017

Ini Rahasia Dari Rasulullah Agar Urusan Menjadi Mudah dan Berkah






Oleh: Muchlis Handoko

BISMILLAH washolatu wassalam ala rosulillah, amma ba’du;

Pembaca yang dirahmati Allah SWT

Nabi SAW telah mengajari kita dalam sebuah hadisnya yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori, untuk melakukan sunahnya ini setiap kali kita ingin pergi menunaikan urusan-urusan dunia.

Akan tetapi, sunah ini layaknya batu kerikil kecil yang tak banyak orang menginginkannya, bahkan mengambilnya, ataupun meliriknya. Padahal ia mempunyai peran penting, tuk membangun sebuah gunung yang besar dan kokoh. Sebagaimana sunah  yang singkat ini, bisa membawa kemudahan, dan keberkahan yang banyak dengan izin Allah SWT.

Setiap kita pasti menginginkan agar mendapatkan kehidupan yang mudah, berkah, dan bahagia yang hakiki. Tapi mengapa banyak diantara kita yang justru menjauhi satu-satunya sumber kebahagiaan, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunah ?

Inilah pembaca yang budiman, sunah yang jika engkau lakukannya, niscahya kemudahan, keberkahan, dan hasil yang menyenangkan akan kamu dapat bidznillah. Yaitu sholat dan doa istikhoroh sebelum melakukan kebutuhan yang anda ingin lakukan. Mari kita simak konteks hadisnya.

روى البخاري عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يعلمنا الاستخارة في الأمور كلها، كالسورة من القرآن: ((إذا هم بالأمر فليركع ركعتين، ثم يقول: اللهم إني أستخيرك بعلمك، و أستقدرك بقدرتك، وأسألك من فضلك العظيم، فإنك تقدر ولا أقدر، و تعلم و لا أعلم، و أنت علام الغيوب، اللهم إن كنت تعلم أن هذا الأمر خير لي في ديني و معاشي و عاقبة أمري))، أو قال: (( في عاجلي أمري و آجله، فاقدره لي، و يسره لي، ثم بارك لي فيه، و إن كنت تعلم أن هذا الأمر شر لي في ديني و معاشي و عاقبة أمري))، أو قال: ((في عاجل أمري و آجله، فاصرفه عني و اصرفني عنه، و اقدر لي الخير حيث كان، ثم رضني به، و يسمي حاجته.))

Artinya: “Diriwayatkan oleh Al-Bukhori dari Jabir. ra berkata:”Rasulullah SAW mengajari kita (tuk membaca) doa istikhoroh dalam semua urusan dunia, seperti Ia mengajari kita sebuah surat dari Al-qur’an.Nabi SAW bersabda :” jika ada yang ingin menunaikan kebutuhannya, maka hendaklah ia sholat dua rakaat, kemudian membaca doa “Ya Allah, pilihkanlah untukku diantara dua perkara yang terbaik bagiku, dan takdirkanlahyang terbaik itu untukku, dan aku memohon dengan kemuliaanmu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Maha kuasa sedangkan aku tidak, dan Engkau Maha mengetahui sedangkan aku tidak, dan hanya Engkau yang mengetahui perkara yang goib. Ya Allah.. jika Engkau mengetahui (sebutkan kebutuhan kita) baik untukku, agamaku, kehidupanku, dan akhirnyapun baik untukku, maka tetapkanlah itu untukku, dan mudahkanlah ia untukku, dan jadikanlah ia berkah bagiku. Dan jika engkau mengetahui bahwa itu buruk bagiku,agamaku, dan kehidupanku maka palingkanlah aku dari itu, dan palingkanlah itu dari, kemudian takdirkanlah yang terbaik untukku dan buatlah aku ridho dengan pilihan itu. (1)

https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2013/11/shalat_khusyu.jpg

Nah, inilah yang biasa dilakukan oleh Nabi kita, yaitu sholat istikhoroh setiap kali ingin menunaikan urusan dunianya. Dan Nabipun mengajari doa ini kepada para sahabat, seperti mengajari mereka al-qur’an, yang mana ini menunjukan akan pentingnya istikhoroh itu.

Para ulama mengatakan bahwa kebahagian, dan keberkahan insan, terletak pada banyaknya istikhoroh yang ia lakukan dalam urusan dunianya. Disebutkan pula dalam kitab hishnul muslim, bahwa orang yang beristikhoroh kepada Robbnya, dan bermusyawarah dengan mukmin lainya, tidak akan menyesal dengan apa yang ia lakukan. (2)

Begitulah pembaca yang budiman, oleh karena itu, marilah kita hidupkan kembali sunah Nabi kita yang mulia ini, dan mengajarinya kepada yang lain.

***

Referensi:
)1) HR: Al-Bukhori, jilid: 7, no: 162.
(2) Hishnul Muslim, cetakan: 1,hal: 40
***


Sumber

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Surat Al-Falaq, Ini Beberapa Pelajaran Penting yang Mesti Kita Ketahui


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEisd5chdg3h78zvfHSGUrG2ScT4jXaiNNGnSdyHl8HR6pnzUnHyuJUidNe5uZuE0t8yWclXLoGzcZxfOq2rayMKrWTOt9j85jgeULy7N5wVSNFKgTueik4uN07CiCpP7vmTcAbhv-OhE0Vq/s1600/al+falaq.jpg

DALAM Al-Quran terdapat banyak surat yang berbeda. Salah satunya ialah surat Al-Falaq. Surat yang posisinya kedua terakhir dalam susunan Al-Quran. Setiap surat dalam Al-Quran mengandung banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil. Termasuk pada surat Al-Falaq. Pelajaran penting apa yang bisa kita ambil dari surat tersebut?

Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki,” (QS. Al-Falaq: 1-5).

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhu4mKpTfNOfcX5xeQp__gw5fEadjNMU8Y59_5QKGcJdvaWUVPmCzBdf-xf2expODaqo3krDZFV46KDYxJxV3ap56SF9MxLGoGEAXfbKWxP5PD01QlLfE_L_UCYWbOXBAerbJxioZ7-urk/s1600/alfalaq.jpg

Beberapa yang penting dari surat ini:

1. Surat ini menanamkan kesadaran kepada setiap manusia agar selalu menyadari bahwa di mana pun dia berada selalu di hadapkan kepada bahaya.

2. Bahaya tersebut muncul dari ciptaan Allah yang sebenarnya diciptakan untuk dimanfaatkan oleh manusia. Namun, bila mereka tidak mampu menggunakannya, maka manfaat tersebut akan berubah menjadi bahaya.

3. Karena rahmat-Nya yang tak terbatas, Allah menyediakan perlindungan bagi semua hamba-Nya dari berbagai bahaya dan menyuruh mereka agar berlindung di bawah naungan-Nya.

4. Tanpa diminta pun, Allah Maha Tahu siapa yang perlu perlindungan-Nya. Namun demikian, Dia memberi jalan kepada kita untuk selalu mendekati-Nya. Maka, ditetapkanlah perintah untuk menyatakan diri sebagai seorang hamba yang selalu berlindung di bawah naungan-Nya.

Sumber

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Saat Penghuni Neraka Masuk, Ukuran Gigi Gerahamnya Sebesar Gunung Uhud


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEir-bJkON4C6f-O5scq4mSJY4SvOCOw9QD7I13T9lOgR2MmkatUsQmq4IQtSPEN8Su-SQETWFuCwZLTrX_jXTomMHhBGo9zm3m0mJf_iOD6s8DIJP0ESmKLOyuifGkVtUct3hbqJyr4lG4h/s1600/jabal-magnet.jpg

PADA waktu penghuni neraka masuk ke dalamnya, ukuran badan mereka besar sekali, tetapi bagaimana bentuknya tidak ada yang memahaminya kecuali Zat yang menciptakan mereka. Menurut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah , Rasulullah SAW bersabda, “Jarak antara kedua orang kafir yang masuk neraka adalah tiga hari perjalanan seorang penunggang cepat,” (HR.Muslim).

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Geraham orang kafir itu atau gigi taring atasnya, sama besarnya dengan bukit Uhud dan tebal kulitnya sama dengan tiga hari perjalanan,” (Shahih Muslim).

Rasulullah SAW bersabda, “Kulit orang kafir itu 42 hasta tebalnya, gerahamnya sebesar Uhud, sedangkan ruangan yang diperlukannya sama seperti jarak antara Mekah dan Madinah.”(HR. Tarmidzi).

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5a8kMGCgoOUgjsQqlhfqdjU80o6lY2jqaXdvVkFdS7x_xS_n6_T_OHRBILkyfscWug-Nb7fVdUYzO9jAwStMQQ3HgRBhuclp-_tdjET4a311-wTZRL5HOJjFFrYcIlOH31SRlfKuheWA/s1600/lubang+neraka.jpeg

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Geraham orang kafir pada hari kiamat nanti sama besarnya dengan Uhud, dan tebal kulitnya tujuh puluh hasta. Tangannya seperti al-Bayda’, pahanya seperti Warqan, dan luas ruangan yang diperlukannya sama seperti jarak antara saya dan ar-Rabdah,” (HR. Al-Hakim dan Ahmad).

Penambahan ukuran badan orang-orang kafir tersebut juga akan menambah azab dan siksaan yang akan mereka terima nanti. Mengenai hadis yang diriwayatkan Muslim tentang soal ini, an-Nawawi berkata, “Semua ini dimaksudkan untuk memperbesar penderitaan, dan semua ini bisa saja dilakukan Allah SWT. Kita harus mempercayainya, karena Nabi sendiri yang menginformasikan hal itu kepada kita.” Ibn Katsir, dalam mengomentari hadits-hadits tersebut berkata, “(Itu) supaya hukuman dan penderitaan mereka lebih pedih, sebagaimana Firman Allah SWT, “….supaya mereka merasakan azab,” (QS. An-Nisa : 56).

Sumber

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !