Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Januari 2017

Merah Putih Menurut Hadist Rosulullah S.A.W

Merah Putih Menurut Hadist Rosulullah S.A.W


Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya berjudul Api Sejarah menulis, bendera Republik Indonesia (RI), Sang Saka Merah Putih, adalah Bendera Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam.

Para ulama berjuang untuk mengenalkan Sang Saka Merah Putih sebagai bendera Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada bangsa Indonesia dengan mengajarkannya kembali sejak abad ketujuh masehi atau abad kesatu Hijriah. Masa ini bertepatan dengan masuknya agama Islam ke Nusantara.

Mansyur menyatakan para ulama membudayakan bendera merah putih dengan berbagai sarana antara lain tiga cara berikut:

Pertama, setiap awal pembicaraan atau pengantar buku, sering diucapkan atau dituliskan istilah Sekapur Sirih dan Seulas Pinang. Bukankah kapur dengan sirih akan melahirkan warna merah? Lalu, apabila buah pinang diiris atau dibelah, akan terlihat di dalamnya berwarna putih?

Kedua, budaya menyambut kelahiran dan pemberian nama bayi serta Tahun Baru Islam senantiasa dirayakan dengan menyajikan bubur merah putih?

Ketiga, pada saat membangun rumah, di susunan atas dikibarkan Sang Merah Putih. Setiap hari Jumat, mimbar Jumat di Masjid Agung atau Masjid Raya dihiasi dengan bendera merah putih.

Mansyur pun menyatakan pendekatan budaya yang dilakukan para ulama telah menjadikan pemerintah kolonial Belanda tidak sanggup melarang pengibaran bendera merah putih oleh rakyat Indonesia.

Mansyur menegaskan bendera Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berwarna Merah Putih seperti yang ditulis oleh Imam Muslim dalam Kitab Al-Fitan, Jilid X, halaman 340. Dari Hamisy Qasthalani,

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam Bersabda: “Innallaha zawaliyal ardha masyaariqaha wa maghariba ha wa a’thonil kanzaini Al-Ahmar wal Abjadh”.

Artinya: “Allah menunjukkan kepadaku (Rasul) dunia. Allah menunjukkan pula timur dan barat. Allah menganugerahkan dua perbendaharaan kepadaku: Merah Putih”.

Informasi ini didapat Mansyur dari buku berjudul Kelengkapan Hadits Qudsi yang dibuat Lembaga Alquran dan Al-Hadits Majelis Tinggi Urusan Agama Islam Kementerian Waqaf Mesir pada 1982, halaman 357-374. Buku ini dalam versi bahasa Indonesia dengan alih bahasa oleh Muhammad Zuhri.

Mansyur mengemukakan sejumlah argumen pendukung untuk memperkuat pendapatnya, yakni merah putih adalah bendera Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam.

Menurut Mansyur, Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam memanggil istrinya, Siti Aisyah ra, dengan sebutan Humairah yang artinya merah.

Busana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang indah juga berwarna merah, seperti disampaikan oleh Al Barra: “Kanan Nabiyu Saw marbua’an wa qadra ataituhu fi hullathin hamra-a, Ma raitu syaian ahsana min hu”.

Artinya: “Pada suatu hari Nabi sallallahu alaihi wasallam duduk bersila dan aku melihatnya beliau memakai hullah (busana rangkap dua) yang berwarna merah. Aku belum pernah melihat pakaian seindah itu”.

Mansyur pun menyatakan busana warna putih juga dikenakan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, sedangkan pedang Sayidina Ali radi allahu anhu berwarna merah dan sarung pedang Khalid bin Walid berwarna merah-putih.


Mungkinkah Merah Putih dalam Hadist Tersebut Adalah Indonesia? Wallahu a’lam bish-shawabi

Sumber : Pusat Data Republika

Sabtu, 07 Januari 2017

Isu-isu Sentral dalam Pemikiran Islam Liberal (3)


2.     Pluralisme Agama 
Yang dimaksudkan dengan pluralisme agama adalah faham yang menyamakan semua agama. Faham ini lahir sebagai akibat sekularisme and proses sekularisasi masyarakat Barat. Secara ringkasnya terdapat empat aliran pemikiran pluralisme agama yang berkembang sekarang ini: (1) Civil Religion; (2) Global Theology; (3) Transcendent Unity of Religions; dan Syncretism.  Dua yang pertama lahir di Barat akibat faham sekularisme,  dan dua yang terakhir merupakan reaksi terhadap sekularisme. Di Indonesia nampaknya aliran Transcendent Unity of Religions (TUR) mendapat sambutan dari tokoh-tokoh pemikir Islib.
Ajaran TUR membagi agama-agama besar dunia (Islam, Kristian, Yahudi, Budha, Hindu, dll.) kepada dua struktur utama; Exoteric (Luaran/Zahir) dan Esoteric (Dalaman/Batin). Agama-agama ini menurut mereka hanya berbeda pada struktur luarannya dan zahirnya sahaja, sedangkan strukur dalamannya dan batinnya adalah sama, iaitu menuju pada tuhan yang satu. Pemikir Barat yang mengembangkan faham TUR adalah Rene Guenon (lahir di Perancis tahun 1883) yang kemudian menganut Islam serta Frithjof Schuon (lahir di Jerman tahun 1907) juga kemudian menganut Islam dan menukar nama menjadi Isa Nuruddin Ahmad, sementara dalam dunia Islam faham ini mendapat sokongan dari Seyyed Hossein Nasr yang berlatar belakang Syi’ah.  Nasr yang juga berpegang dengan faham ‘Filsafat Perenial’ (Perennial Philosophy) telah terpengaruh dengan pendekatan perbandingan agama (comparative religions) yang berkembang di Barat.  Hal ini diakui juga oleh Nuh Ha Mim Keller, seorang sarjana Muslim yang suatu ketika dahulu tertarik dengan dan akhirnya memeluk Islam kerana tulisan-tulisan Nasr. Beliau mengatakan:
While from a Shiite background, Hossein Nasr has a firmer footing in traditional Islamic knowledge than many other western interpreters of Islam, Muslims and non-Muslims, and his works are generally free of the mistakes in detail found in other’s books, though some passages are occasionally colored by the comparative religions approach that mars the writings of a number of Muslim intellectuals.
Paham TUR oleh sebahagian para pendokongnya, seperti Huston Smith yang menekuni bidang perbandingan agama di Barat, telah disederhanakan dengan sebuah permisalan segitiga, dimana Tuhan berada di titik tertinggi, sementara semua agama mengalir ke bawah dari titik tersebut; begitu juga pada masa yang sama semua agama naik dari bawah ke atas saling berdekatan dan akhirnya bertemu di titik puncak itu. Menurut mereka, itulah titik ‘transcendent’ dimana semua agama-agama bersatu di situ.
Nurcholis Madjid, tokoh yang menggagaskan sekularisasi di Indonesia, adalah juga tokoh yang turut menyebarkan faham TUR. Hanya sanya permisalan yang digunakan oleh Cak Nur bukanlah segitiga sebagaimana Huston Smith, tetapi permisalan roda yang memiliki jejari yang banyak, dan masing-masingnya bertemu di titik tengah bulatannya yang dikira sebagai titik ‘transcendent’. Dalam hal ini beliau menyatakan:
“Sebagai sebuah pandangan keagamaan, pada dasarnya Islam bersifat inklusif dan merentangkan tafsirannya ke arah yang semakin pluralis. Sebagai contoh, filsafat perenial yang belakangan banyak dibicarakan dalam dialog antaragama di Indonesia merentangkan pandangan pluralis dengan mengatakan bahwa setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai agama. Filsafat perenial juga membagi agama pada level esoterik (batin) dan eksoterik (lahir). Satu agama berbeda dengan agama lain dalam level eksoterik, tetapi relatif sama dalam level esoteriknya. Oleh karena itu, ada istilah “Satu Tuhan Banyak Jalan.”
Faham pluralisme agama, khususnya TUR, yang meyakini semua agama pada hakikatnya sama dan benar, kini semakin diterima oleh generasi muda Islib. Sukidi, koordinator Jaringan Islam Muda Muhammadiyah (JIMM), kelompok Islib yang cuba masuk ke dalam pertubuhan Muhammadiyah, menyatkan hal yang sama tentang TUR. Beliau meminjam istilah Mahatma Gandhi dalam menggunakan permisalan pohon dan ranting bagi mengungkapkan kesatuan agama-agama di peringkat ‘transcendent’. Katanya:
“Dan, kosekuensinya, ada banyak kebenaran (many truths) dalam tradisi dan agama-agama. Nietzsche menegasikan [@menafikan] adanya ‘Kebenaran Tunggal’ dan justru bersikap afirmatif terhadap banyak kebenaran. Mahatma Gandhi pun seirama dengan mendeklarasikan bahwa semua agama – entah Hinduisme, Buddhisme, Yahudi, Kristen, Islam, Zoroaster, maupun lainnya – adalah benar. Dan, konsekuensinya, kebenaran ada dan ditemukan pada semua agama. Agama-agama itu diibaratkan, dalam nalar pluralisme Gandhi, seperti pohon yang memiliki banyak cabang (many), tapi barasal dari satu akar (the one). Akar yang satu itulah yang menjadi asal dan orientasi agama-agama.”
Faham TUR yang pada asalnya masih bersifat teoritis dan filosofis, telah diterjemahkan oleh para pendukung JIL dalam bentuk yang lebih ekstrim dan radikal. Koordinatornya, Ulil Absar Abdalla, tanpa segan silu lagi menyatakan bahawa “Semua agama Sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar.”  Apabila akidah Islam telah rosak, maka syari’ahnya menjadi tidak bermakna sama sekali. Jadi merekapun menolak larangan kahwin beza agama yang merupakan bagian dari syari’ah Islam. Bagi mereka larangan itu sudah tidak lagi relevan dalam era pluralisme agama kini. Ulil Absar mengungkapkan dalam satu tulisannya yang bertajuk “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” dalam surat khabar Kompas, bahawa: “Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi.”
Faham pluralisme agama di Indonesia juga cuba diselundupkan dalam program pendidikan sekolah rendah kononnya untuk melahirkan generasi masa depan Muslim yang ‘pluralis’. Sekolah yang mencuba program pluralisme agama itu adalah Sekolah Madania di Jakarta. Dr. Budhy Munawar Rahman, salah seorang aktivis JIL, yang juga menjadi pengurus Sekolah Madania menyatakan:
“Memang, ada suatu eksperimen yang dilakukan di Madania (TK, SD, SMP, dan SMU milik Paramadina). Dengan sistem active learning sejak SD, setiap anak biasanya mendapatkan pendidikan agama sesuai agama masing-masing. Juga ada sistem moving class; ketika pelajaran agama, mereka pindah ke kelas agama masing-masing. Ada macam-macam kelas agama terpisah-pisah; Christian class, Catholic class, Islamic class, dan lain-lain. Jadi, pasal 13 ayat 1 A RUU Sisdiknas sudah kami lakukan di Madania. Nah, karena kami mau menekankan pluralisme agama, pada masa-masa tertentu, misalnya tiga bulan sekali, kami adakan spiritual atau religion fair atau ‘pekan raya agama.’ Setiap kelas agama akan berhias diri, simbol-simbol agama juga ditampilkan, dan setiap anak akan datang berkunjung, melihat, dan mungkin bertanya kepada guru agama; apa sih artinya pohon natal? Di sana kita jumpa Budha yang sedang melakukan meditasi, tampilan Ka’bah, dan lain-lain. Semua anak bisa melihat simbol-simbol keagamaan yang sangat ekspresif dan penuh nilai kesakralan. Itu mungkin pengalaman tersendiri bagi anak-anak. Kami tak mungkin mengajarkan wawasan pluralisme, tetapi guru-gurunya bukan pluralis. Bahaya sekali dan akan merusak ide besar kami. Makanya, orang tua juga harus mandapatkan training atau semacam acara bulanan sehingga mereka bisa memahami pluralisme.”
Mengapa sampai begitu dahsyat sekali faham pluralisme agama berkembang di Indonesia? Jawabannya adalah ringkas; kerana Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) secara perlembagaan tidak memberikan hak istimewa kepada Islam untuk menjadi agama rasmi negara, yang akhirnya Islam secara khusus tidak dilindungi dari segi undang-undang. Ini mesti menjadi pengajaran kepada Malaysia supaya terus mempertahankan Islam sebagai agama rasmi negara dalam perlembagaannya. Apabila tidak ada perlindungan undang-undang ini, maka anasir-anasir yang merosak Islam dari dalam begitu mudah disebarkan dalam masyarakat tanpa boleh dihalang oleh pemerintah Indonesia sendiri.
Apabila Majlis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun lepas mengeluarkan fatwa bahawa faham pluralisme agama adalah bercangggah dengan akidah Islam, maka fatwa itu telah dikecam oleh kelompok JIL, bahkan MUI dianggap tolol dan diperbodoh-bodohkan oleh mereka. MUI pada 29hb Julai 2005 diantaranya mengeluarkan fatwa bahawa:
“Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan kerenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah.”……….“Pluralisme…sebagaimana dimaksud pada bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.”
Namun sayang, akibat tidak adanya kuasa undang-undang, fatwa di atas tidak mengikat setiap Muslim di Indonesia. Akibatnya aliran Islam yang menyeleweng tetap subur di negeri ini, maka masyarakatlah yang bertindak mengambil jalan sendiri. Kes aliran Ahmadiyah menjadi bukti apabila akhirnya masyarakat Islam yang prihatin terhadap semakin merebaknya faham ini mengambil tindakan sendiri menceroboh pusat kegiatan Ahmadiyah di Parung, Jawa Barat, baru-baru ini. JIL atas nama pluralisme dan kebebasan beragama mengecam keras tindakan tersebut, sementara Majlis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan kembali fatwa, memperkuat fatwa sebelumnya, bahawa aliran Ahmadiyah adalah terkeluar Islam. Bahkan Majlis Ulama Indonesia menyatakan dalam fatwa yang sama bahawa, “Pemerintah berkewajiban melarang penyebaran paham Ahmadiah di seluruh Indonesia dan membekukan organisasi serta menutup semua tempat kegiatannya.” Namun kerana fatwa tersebut tidak memiliki kuasa undang-undang di Indonesia, kelompok Islib tetap berani mempersedakan MUI di hadapan publik.
Ajaran Islam mengakui adanya ‘religious plurality’ dalam arti menerima adanya perbezaan dan kepelbagaian agama dalam kehidupan bermasyarakat, bukan ‘religious pluralism’ yang menyamakan semua agama. Prinsip ‘lakum dinukum waliyadin’ dan juga ‘la ikraha fiddin’ menjadi teras utama toleransi dan kerukunan beragama dalam Islam. Prinsip ini pada dasarnya menerima adanya perbedaan agama dari segi akidah dan keyakinan masing-masing, sementara pluralisme agama ingin memansuhkan perbedaan tersebut sehingga para penganut agama tidak boleh meyakini lagi agamanya sebagai kebenaran.
Pada akhirnya pluralisme agama itulah yang mengklaim dirinya sebagai kebenaran, sedangkan klaim kebenaran agama yang sedia ada dinafikan dan tidak boleh dikemukakan di hadapan publik. Pluralisme agama dalam bentuknya sebagai ‘civil religion’ yang sekular memang bercita-cita menjadi polis kepada agama-agama yang ada. Mana-mana agama atau negara yang melanggar rule of the game paham ini akan dikenakan hukuman dan didenda atas keyakinan dan perbuatannya. Bahkan agama yang mendakwa bahawa dirinya sahaja yang benar boleh dikira sebagai ‘agama jahat’. Itulah kesan yang ingin ditimbulkan oleh sebuah buku pendokong pluralisme agama yang bertajuk ‘When Religion Becomes Evil’
Kita melihat usaha penubuhan Interfaith Commision (IFC) di Malaysia adalah dalam rangka penyebaran faham pluralisme agama yang kita bincangkan. Semua tuntutan golongan ini tanpa segan silu lagi jelas-jelas menyerang prinsip-prinsip Islam sebagai agama rasmi yang dilindungi oleh perlembagaan Malaysia. Marilah kita perhatikan tuntutan-tuntutan golongan ini:
1.     Seorang anak yang dilahirkan oleh ibu bapa Islam tidak mengharuskan secara terus menjadi orang Islam.
2.     Orang-orang bukan Islam yang telah memeluk agama Islam hendaklah diberikan kebebasan untuk kembali kepada asal agama mereka (murtad) dan tidak boleh dikenakan tindakan undang-undang.
3.     Sebarang kes pertukaran agama orang Islam kapada bukan Islam tidak sepatutnya dikendalikan oleh mahkamah Syariah tetapi dikendalikan oleh mahkamah civil.
4.     Tidak perlu dicatatkan di dalam kad pengenalan seseorang Muslim bahawa ia beragama Islam.
5.     Orang bukan Islam tidak perlu dikehendaki menganut Islam sekiranya ingin berkahwin dengan orang Islam. Orang Islam hendaklah dibenarkan keluar daripada Islam (murtad) sekiranya ingin berkahwin dengan orang bukan Islam tanpa boleh dikenakan apa-apa tindakan undang-undang.
6.     Seseorang atau pasangan suami isteri yang menukar agamanya dengan memeluk Islam tidak patut diberikan hak jagaan anak.
7.     Orang-orang yang bukan Islam yang mempunyai hubungan hubungan kekeluargaan dengan seorang yang memeluk Islam hendaklah diberikan hak menuntut harta pusakanya selepas kematiannya.
8.     Kerajaan hendaklah menyediakan dana yang mencukupi untuk membina dan menyelenggara rumah-rumah ibadah orang bukan Islam sebagaimana kerajaan menyediakan dana yang serupa untuk masjid.
9.     Orang-orang bukan Islam handaklah dibenarkan dan tidak boleh dihalang daripada menggunakan perkataan-perkataan suci Islam dalam percakapan dan sebagainya.
10.    Bible dalam bahasa Malaysia dan bahasa Indonesia sepatutnya dibenarkan untuk diedarkan kepada umum secara terbuka.
11.    Pelajaran agama bukan Islam untuk penganut agama itu hendaklah diajar di semua sekolah.
12.    Program-program berunsur Islam dalam bahasa ibunda suatu kaum handaklah ditiadakan. Program dakwah agama lain selain Islam pula hendaklah dibenarkan untuk disiarkan dalam bahasa ibunda masing-masing.
13.    Orang-orang Islam yang membayar zakat tidak sepatutnya dikecualikan daripada membayar cukai pendapatan dan wang hasil zakat sepatutnya digunakan juga untuk keperluan orang-orang bukan Islam.
14.    Sepatutnya Islam tidak disebut sebagai pilihan pertama masyarakat Malaysia separti dalam soal pakaian menutup aurat kepada pelajar sekolah.
Tuntutan-tuntutan di atas sebahagian besarnya bercanggah dengan ajaran Islam dan kepentingan umat Islam di Malaysia. Bukankan aneh apabila ada orang Islam atau kumpulan Islam yang mendokongnya? Namun kenyataannya ada kumpulan yang menamakan diri “Sisters In Islam” (SIS) menyetujui dan menyokong IFC. Itulah realiti pemikiran Islib; orang-orang Islam sendiri yang secara zahirnya tidak mahu dikatakan bukan Islam, tetapi batinnya tidak mahu tunduk dan patuh pada ajaran-ajaran Islam, atau seperti ungkapan Pak Rasjidi, orang Islam “yang tidak mempunyai hubungan batin dengan Islam.”

Persoalannya, bolehkah lagi pemikiran itu dinamai dengan nama ‘Islam’ seperti dalam ungkapan ‘Islam liberal’ apabila bagi mereka ajaran Islam pada hakikatnya tidak berbeza dengan ajaran-ajaran yang lain? Imam al-Ghazali pernah menulis satu risalah kecil dengan tajuk ‘Faisal al-Tafriqah Baynal Islam waz Zandaqah’ (Fasal Kecil Tentang Perbezaan Islam dan Faham Zindiq). Berdasarkan risalah ini orang Islam yang batinnya benci kepada Islam bolehlah disebut sebagai Zindiq. Pemikiran Islib kebanyakannya adalah pemikiran zindiq yang merosak Islam dari dalam tubuh Islam itu sendiri.

Oleh: Dr. Ugi Suharto
International Islamic University Malaysia

Isu-isu Sentral dalam Pemikiran Islam Liberal (2)


Pemikiran Islam Liberal di Indonesia
Dalam konteks Indonesia ada disertasi yang ditulis oleh Greg Barton pada tahun 1995 mengenai kemunculan pemikiran liberal di kalangan pemikir Indonesia. Disertasi yang asalnya bertajuk The Emergence of Neo-Modernism: A Progressive, Liberal Movement of Islamic Thought ini kemudiannya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi satu buku yang bertajuk “Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neomodernisme Nurcholis Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid”, yang diterbitkan atas kerjasama Paramadina, Yayasan Adikarya Ikapi, dan Ford Foundation pada tahun 1999. Pemikiran Islam liberal, yang biasa disingkat sebagai ‘Islib’, kemudian dipopularkan oleh satu kumpulan para pemuda dengan menubuhkan satu rangkaian kerjasama di dalam dan di luar negara, yang mereka namakan sebagai ‘Jaringan Islam Liberal’ (JIL).
Apa yang akan dipaparkan dalam kertas ini adalah beberapa isu pokok dalam pemikiran Islam liberal yang berkembang di Indonesia. Memang terlihat jelas bahawa pemikiran-pemikiran liberal yang dilontarkan oleh golongan ini merupakan penyerapan dan pengaruh dari isu-isu pemikiran yang berkembang di dunia Barat. Proses pembaratan dan globalisasi kultural yang berjalan di Indonesia selama ini telah melahirkan golongan pemikir yang merasa selesa dengan pemikiran agama seperti yang terjadi di Barat. Islib kini menjadi satu lagi jentera globalisasi, bukan dalam bidang ekonomi, tapi dalam bidang agama. Seperti juga nasib agama-agama di Barat, Islib hendak menjadikan Islam sama seperti Kristian atau Faham Yahudi di Barat yang tunduk dengan kehidupan duniawi, dengan cara membebaskan umat Islam dari ajaran-ajaran Islam yang tulin menerusi tafsiran atau perubahan ajaran Islam itu sendiri sehingga sesuai dengan selera dan agenda Barat. Hal ini sesuai dengan motto dan syiar Jaringan Islam Liberal (JIL) di Indonesia iaitu ‘Islam Yang Membebaskan.” Pembebasan yang pertama, seperti yang terjadi di dunia Barat, adalah menerusi proses sekularisasi dan sekularisme yang berambisi membebaskan umat manusia dari pengaruh-pengaruh alam ruhani.
1.     Sekularisasi dan Sekularisme
Sejak permulaan tahun 1970 isu sekularisasi di Indonesia telah dilancarkan oleh seorang sarjana agama yang bernama Drs. Nurcholis Madjid yang ketika itu menjawat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dalam ucapannya pada 2hb Januari 1970 yang bertajuk “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat” (Arena 1), begitu juga dalam artikelnya yang lain yang bertajuk “Sekali Lagi Tentang Sekularisasi” (Arena 2), Cak Nur, nama panggilan Nurcholis, telah memperkenalkan istilah “sekularisasi” kepada masyarakat Islam Indonesia dengan mendakwa bahawa sekularisasi tidaklah dimaksudkan penerapan sekularisme. Bahkan menurutnya proses sekularisasi itu merupakan proses Islami seperti tertuang dalam permulaan kalimah syahadah (La Ilaha…) itu sendiri. Beliau jelas-jelas mengatakan bahawa, “Agama Islam bila diteliti benar-benar dimulai dengan proses sekularisasi lebih dulu. Justru ajaran ‘Tauhied’ itu merupakan pangkal tolak proses sekularisasi besar-besaran”.
Pendapatnya yang aneh dan mengelirukan itu telah mendapat bantahan keras secara ilmiah oleh Prof. Dr. H.M. Rasjidi, yang ketika itu menjawat sebagai profesor Institut Agama Islam Negri (IAIN). Dalam satu bukunya yang bertajuk “Koreksi Terhadap Drs. Nurcholis Madjid Tentang Sekularisasi” yang terbit tahun 1972, Prof. Rasjidi menyatakan bahawa Nurcholis telah menggunakan perkataan sekularisasi lantas memberikan arti semahunya sendiri, padahal istilah sekularisasi dan sekularisme itu adalah istilah yang sudah mapan dari segi maknanya, dan kedua-duanya tidak boleh dipisahkan. Seolah-olah Nurcholis ingin menunjukkan kepada masyarakat Islam di Indonesia bahawa proses sekularisasi itu tidak semestinya bersifat negatif dalam pandangan Islam. Bahkan sekularisasi itu menjadi sesuatu yang sangat sebati dengan Islam, karena akar sekularisasi itu sudah ada pada kalimah tauhid itu sendiri.
Sebenarnya Nurcholis Madjid telah terpengaruh dengan cara analisis Harvey Cox  dari kalangan pemikir Kristian yang mengatakan bahawa akar sekularisasi itu sudah ada dalam ajaran-ajaran Bible. Cak Nur memang membaca karya Harvey Cox, The Secular City, yang terbit tahun 1965 dan ketika itu menjadi best-seller di Amerika. Nurcholis kemudian mengambil gagasan utama Cox itu untuk diterapkan pada Islam. Namun beliau tidak memberitahu masyarakat awam bahwa gagasan sekularisasi itu adalah diciplak dari pemikiran Harvey Cox.
Disinilah kerancuan pemikiran Cak Nur yang telah mencampur-adukkan antara istilah yang memiliki arti yang sudah mapan dengan pengertian bahasa semata-mata. Disini juga telah terlihat adanya usaha-usaha untuk menjungkir-balikkan makna-makna ilmiah yang sudah ‘established’ dan mapan serta mengelirukan orang awam dengan pengertian baru tanpa tanggung jawab ilmiah sama sekali.
Oleh itu tidak aneh apabila Prof. Rasjidi yang memang sudah lama bergelut dalam kehidupan ilmiah menyindir Nurcholis Madjid muda dengan kata-katanya:
Walaupun saya sendiri faham bahasa Inggeris sudah hampir semenjak 40 tahun yang lalu dan pernah mengajar dalam suatu Universitas dengan bahasa Inggeris, namun saya tidak berani memaksakan suatu istilah yang sudah menjadi umum dalam dunia ilmu pengetahuan. Bagi Drs. Nurcholis Madjid, sekularisasi artinya menganggap dunia ini arena kegiatan manusia, tidak ada yang tabu, tidak ada yang sakral. Faham ini adalah faham yang salah dan akan menyebabkan akibat-akibat yang sangat besar dan tidak kita harapkan.
Nurcholis muda rupanya tidak mahu memperdulikan nasihat Pak Rasjidi. Pada 30hb Oktober 1972, Nurcholis sekali lagi membentangkan kertas karja di Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan tajuk “Menyegarkan Faham Keagamaan di Kalangan Ummat Islam Indonesia”. Apabia Prof. Rasjidi membaca dan mendengar menerusi keset ceramah Cak Nur itu, maka timbul rasa syak dan curiga dalam diri Pak Rasjidi. Beliau mengatakan:
Setelah  saya membaca dan mendengarkan ceramah Drs. Nurcholis di Taman Ismail Marzuki tersebut, berobahlah ganbaran saya tentang beliau. Gambaran saya yang baru itu bukanlah gambaran seorang muda yang penuh rasa gairah terhadap Islam dan ingin mempertahankannya, akan tetapi pada tingkat sekarang cukup saya katakan bahwa dengan singkat kesan saya adalah: saya dihinggapi rasa curiga.
Dalam kesempatan yang lain, setelah menganalisis ungkapan-ungkapan Cak Nur, Pak Rasjidi merasakan bahawa Nurcholis seolah-olah mewakili orientalis yang tidak mempunyai hubungan jiwa dengan Islam. Kata beliau:
Dengan mencantumkan tiga paragraph di atas, saya merasa seakan-akan saya berhadapan dengan seorang sarjana Barat yang sama sekali tidak mempunyai hubungan batin dengan Islam.
Pada bahagian “Penutup” komentarnya itu, Pak Rasjidi menyimpulkan pemikiran Nurcholis muda ketika itu sebagai pemikiran yang belum matang, mentah, serta tidak memenuhi syarat sebagai pembaharu dalam Islam. Bukan hanya itu, bahkan pemikiran-pemikiran Cak Nur itu sangat berbahaya dan harus diwaspadai. Kata Pak Rasjidi:
Dengan keterangan-keterangan diatas dapat saya simpulkan bahwa segala pemikiran Drs. Nurcholis dan kelompok pembaharuannya, merupakan pikiran-pikiran orang yang belum matang dan tidak memenuhi syarat…….Terang sekali bahwa fikiran Drs. Nurcholis adalah berbahaya kepada ummat Islam Indonesis, karena fikiran-fikiran itu menuju kepada sekularisasi. Mudah-mudahan kita selalu berwaspada.
Namun sayang golongan pendokong pemikiran Islam liberal lebih suka mendengar gagasan Cak Nur yang keliru itu daripada nasihat Pak Rasjidi yang secara ilmiah dan akademik lebih bertanggung jawab. Jangkaan Pak Rasjidi bahwa ‘faham ini adalah faham yang salah dan akan menyebabkan akibat-akibat yang sangat besar yang tidak kita harapkan’ kini telah menjadi kenyataan apabila generasi muda setelah berlalunya zaman Cak Nur, khususnya yang tergabung dalan Jaringan Islam Liberal (JIL), dengan penuh semangat menyahut kembali seruan sekularisasi Cak Nur dan bahkan mendokong pembentukan negara sekular tanpa segan dan silu. Koordinator JIL, Ulil Absar-Abdalla mengatakan: “Islam Liberal bisa menerima bentuk negara sekuler…sebab, negara sekuler bisa menampung energi kesalehan dan energi kemaksiatan sekaligus.”
Dr. Denny JA, seorang lagi aktivis Islib (singkatan Islam Liberal) menyatakan:
“Sudah saatnya komunitas Islam Liberal di Indonesia mengembangkan sebuah teologi tersendiri yang sah secara substansi dan metodologi, yaitu Teologi Islam Liberal. Ini sebuah filsafat keagamaan yang bersandar pada teks dan tradisi Islam sendiri, yang memberi pembenaran pada sebuah kultur liberal. Dalam politik, teologi itu menjadi Teologi Negara Sekuler (TNS), yaitu sebuah filsafat keagamaan, yang menggali dari teks dan tradisi Islam, yang paralel atau membenarkan perlunya sebuah negara yang sekuler sekaligus demokratis.”
Seorang lagi aktivis JIL yang sering memuja dan memuji sekularisme adalah Luthfi Assyaukanie. Baginya sekularisme bukan sahaja tidak bercanggah dengan Islam, malah sekularisme itu dapat memberi berkah kepada Islam dan juga agama-agama yang lain. Oleh itu Islam mesti menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan sekularisme. (Lihat tulisan-tulisannya yang bertajuk “Berkah Sekularisme” dan “Adaptasi Agama Terhadap Sekularisme”, dalam Islamlib.com). Diakhir tulisan itu, Luthfi menyatakan: “Saya meyakini, masa depan Islam –dan juga agama-agama dunia lainnya– terletak pada sejauh mana ia bisa berinteraksi dan beradaptasi dengan sekularisme dan dunia kita yang semakin sekular.”
Masalah Islam dan sekularisme ini sudah panjang lebar dikemukakan oleh Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam bukunya “Islam and Secularism” yang diterbitkan oleh Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) tahun 1978.  Kesimpulan beliau adalah sekularisme adalah memusuhi Islam dan proses sekularisasi memang ditujukan untuk melawan Islam. Oleh sebab itu istilah-istilah seperti sekularisme, sekularisasi, dan sekular itu sendiri tidak boleh dihubung-hubungkan dan dikait-kaitkan dengan Islam. Bahkan terjemahan perkataan sekularisme dalam bahasa Arab seperti ‘ilmaniyyah’ atau ‘almaniyyah’ adalah tidak tepat sama-sekali, karena tidak ada padanannya dalam konsepsi Islam. Begitu juga pemikir Islam yang lain seperti Prof. Dr. Yusuf al-Qaradawi, menyatakan pendapat yang sama bahawa sekularisme dan sekularisasi itu bercanggah dengan Islam dan akan sentiasa berkonfrantasi dengan Islam, seperti dinyatakan dalam buku beliau “al-Islam wa al-‘Ilmaniyyah Wajhan li Wajhin”.  Keselarasan dua pemikir agung Muslim ini,  ditambah lagi dengan hujah-hujah Pak Rasjidi dalam menyanggah Nurcholis Madjid sebelum itu, sepatutnya menjadi pegangan umat Islam di Indonesia dan juga di Malaysia untuk menolak sebarang unsur faham sekular yang cuba diserapkan dalam pemikiran umat Islam di rantau ini.
Kita mesti terus menerus mengawasi, waspada dan peka terhadap perjuangan kelompok Islam Liberal yang terang-terang hendak membentuk negara sekular yang tidak akan memberi ruang publik kepada Islam yang syamil dan kamil. Dalam monteks Indonesia, Islam memang sejak awal tidak dinyatakan sebagai agama rasmi negara. Namun kerana majoriti penduduk Indonesia adalah Muslim, secara teori dan cultural, Islam boleh lebih ‘berkuasa’ di Indonesia dan lebih memungkinkan secara demokratik untuk diperjuangkan oleh umat Islam. Tapi dengan munculnya gerakan Islib, kesatuan akidah dan pemikiran Islam telah dipecah belah lebih dahulu. Bagi mereka tidak ada Islam yang satu; yang ada adalah “Islams” atau Islam ‘warna-warni’ dan caca marba. Islam yang liberal seperti itu sudah tentu Islam yang dikuasai oleh sekularisme, dan itu bukan Islam yang sebenarnya.
Dalam konteks Malaysia pula, Islam telah dinyatakan dalam perlembagaan sebagai agama rasmi negara. Disatu segi hal ini merupakan perlindungan undang-undang kepada Islam itu sendiri. Namun perlu diingat bahawa proses globalisasi yang tengah berjalan lambat atau cepat akan melabrak juga undang-undang setiap negara. Apabila kubu pertahanan ini tumbang, sementara bilangan penduduk kaum Muslimin di Malaysia bukanlah majoriti, maka sudah pasti kedudukan Islam akan tergugat di Malaysia.
Sepatutnya ada kerjasama yang rasmi dan khusus antara Malaysia dan Indonesia dalam usaha membangunkan Islam. Kerjasama ini dapat berjalan di peringkat kerajaan dan juga pertubuhan bukan kerajaan (NGO). Kekuatan majoriti Muslim di Indonesia dan kekuatan undang-undang rasmi di Malaysia sepatutnya dilihat sebagai ‘strength’ (SWOT) masing-masing negara dalam membedung arus liberalisasi Islam yang sedang berjalan, supaya Indonesia dan Malaysia tidak secara rasmi menyatakan diri sebagai negara sekular. Na’udzu billah min dzalik.


Oleh: Dr. Ugi Suharto
International Islamic University Malaysia

Isu-isu Sentral dalam Pemikiran Islam Liberal (1)


Pendahuluan
Istilah “Islam Liberal” pertama kali digunakan oleh para penulis Barat seperti Leonard Binder  dan Charles Kurzman.  Binder menggunakan istilah ‘Islamic Liberalism’, sementara Kurzman memakai istilah ‘Liberal Islam’. Secara tersirat kedua-duanya mempercayai bahawa Islam itu banyak; ‘Islam Liberal’ adalah salah satunya. Namun sebelum kita melanjutkan perbincangan ini, pertamanya kita mesti nyatakan dahulu bahawa Islam itu satu dan tidak banyak. Yang nampak banyak sebenarnya adalah ‘mazhab’ dalam Islam, bukan Islam itu sendiri. Jadi istilah ‘Islam Liberal’ yang kita maksudkan disini adalah “Pemikiran Islam Liberal” yang merupakan satu aliran berfikir baru dikalangan umat Islam.
Kemudian perkara yang kedua yang kita perlu jelaskan juga adalah, pemikiran Islam liberal ini tidak termasuk dalam mazhab Islam. Mengapa? Kerana mazhab-mazhab dalam Islam tetap merujuk pada induk yang sama, yang disepakati, yang satu, yang mapan, yang dipersetujui oleh seluruh umat Islam dari dahulu sehingga kini, di berbagai negeri dan lokaliti. Adapun pemikiran Islam liberal, ia adalah suatu pemikiran yang berupaya membebaskan dan ‘meliberalkan’ umat Islam dari Islam yang satu, yang disepakati, dan Islam yang sudah mapan (established) itu. Secara ringkasnya pemikiran Islam liberal tidak dapat dikatakan sebagai mazhab Islam kerana pemikiran ini bertujuan ‘meliberalkan’ dan merongkai takrif Islam yang telah dipersetujui oleh seluruh umat Islam tadi.
Natijah dari penjelasan pertama dan kedua di atas, maka lahirlah penjelasan ketiga yang perlu kita nyatakan juga, iaitu bahawa pada hakikatnya pemikiran Islam liberal bukan pemikiran Islam yang sebenarnya, malah lebih tepat untuk dikatakan bahawa pemikiran Islam liberal adalah pemikiran liberal yang ditujukan kepada Islam. Oleh itu tidak patut nama pemikiran Islam itu disandarkan padanya. Namun sebagai bahan perbincangan kita, tidak ada salahnya kita gunakan juga frasa ‘pemikiran Islam liberal’ untuk memudahkan wacana dan syarahnya. Sama seperti al-Qur’an menggunakan perkataan ‘tuhan’ secara kiasan (majazi) untuk sesuatu yang disembah oleh kaum musyrikin, padahal al-Qur’an pada masa yang sama menyatakan bahawa ‘tidak ada tuhan melainkan Allah’.
Akar-Akar Pemikiran Islam Liberal 
Pemikiran Islam liberal berpuncak dari pengaruh pandangan hidup Barat dan peradabannya yang hegemonic dan mendominasi semua bidang kehidupan dewasa ini. Ia merupakan percampuran antara pemikiran ‘modernism’ yang cuba memberikan tafsiran Islam yang sesuai dengan ‘modernity’ dan pemikiran ‘post-modernism’ yang cuba melakukan ‘deconstruction’ terhadap segala pemikiran yang sudah mapan (established). Namun dapat dikatakan bahawa dalam pemikiran Islam liberal pengaruh pemikiran ‘post-modernism’ lebih ketara. Upaya untuk merombak (deconstruct) segala yang sudah mapan dalam Islam, merupakan ciri utama pemikiran ini. Takrif Islam yang telah mapan, misalnya, perlu diliberalkan dan dirombak, sehinga orang bukan Islam pun dapat dikatakan sebagai Muslim, dan agama selain Islam pun dapat ditafsirkan sebagai Islam juga. Al-Qur’an dalam bentuknya sebagai Mushaf Uthmani yang telah disepakati oleh semua kaum Muslimin, baik Sunni maupun Syi’ah, juga perlu kapada ‘deconstruction’, kononnya untuk mendapatkan wahyu Tuhan yang asal sebelum Khalifah Uthman merasmikan mushafnya untuk seluruh kaum Muslimin.
Pemikiran Islam liberal juga memanfaatkan dan mendapatkan modal murah dari radikalisme yang terjadi pada sebahagian kaum Muslimin. Reaksi mereka bukan hanya tertumpu kepada golongan radikal dari kalangan kaum Muslimin semata-mata, namun kepada Islam dan sumber-sumber Islam yang telah disalah anggap sebagai sumber radikalisme oleh mereka. Hal ini sejalan dengan fahaman Barat terhadap Islam pada hari ini bahawa ajaran-ajaran Islam itu sebati dengan terorisme dan pengahalang kepada kemajuan peradaban sekular mereka. Dalam hal ini politik Barat sudah tentu mempergunakan para pemikir Islam liberal untuk merongkai dan membongkar (deconstruct) simpul-simpul Islam yang kukuh dari dalam tubuh umat Islam sendiri. Barat melihat ajaran Islam sebagai benteng penghalang globalisasi peradaban sekular yang perlu diruntuhkan (deconstruct) terlebih dahulu menerusi para pemikir liberal ini.

Dalam upaya meruntuhkan bangunan ajaran Islam yang kukuh, pemikiran Islam liberal tidak segan silu mengambil kajian-kajian orientalis, metodologi kajian agama lain, ajaran human right dalam konteks humanisme Barat, falsafah sekularisme, dan pandangan-pandangan yang bercanggah dengan Islam. Untuk menyempurnakan penyamaran mereka terhadap kaum Muslimin awam dan supaya tetap dikatakan pemikiran itu sebagai bahagian dari Islam, pemikiran Islam liberal juga menggunakan bahan-bahan dari turath dan persuratan Islam dengan mengambil bahan-bahan yang kontroversial dan marginal. Alasan mereka, bahan-bahan yang menyokong mainstream Islam adalah hasil dari persekongkolan para ulama dan para penguasa di zaman dahulu. Bahan-bahan itu adalah ‘construction’ ulama yang perlu kepada ‘deconstruction’ supaya pemikiran umat Islam bertambah maju, seiring dengan kemajuan sekularisme Barat.


Oleh: Dr. Ugi Suharto
International Islamic University Malaysia

Senin, 02 Januari 2017

Inilah Para Jagoan Wanita Islam


Muslimah & Mujahidah  Jika kita membaca sejarah para sahabat perempuan di zaman Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam, kita akan banyak menemukan kekaguman-kekaguman yang luar biasa. Mereka bukan hanya berilmu, berakhlaq, pandai membaca Al Qur’an, tapi juga jago pedang, berkuda dan memanah, dan tidak sedikit yang juga menjadi “dokter” yang pintar mengobati para sahabat yang terluka di medan perang. Bahkan, ada di antara mereka yang terpotong tangannya karena melindungi Rasulullah! Subhanallah… Simak kisah mereka..

Nusaibah si Jago Pedang
Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam yang mulia berdiri di puncak bukit Uhud dan memandang musuh yang merangsek maju mengarah pada dirinya. Beliau memandang ke sebelah kanan dan tampak olehnya seorang perempuan mengayun-ayunkan pedangnya dengan gagah perkasa melindungi dirinya. Beliau memandang ke kiri dan sekali lagi beliau melihat wanita tersebut melakukan hal yang sama – menghadang bahaya demi melindungi sang pemimpin orang-orang beriman.
Kata Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam kemudian, “Tidaklah aku melihat ke kanan dan ke kiri pada pertempuran Uhud kecuali aku melihat Nusaibah binti Ka’ab berperang membelaku.”
Memang Nusaibah binti Ka’ab Ansyariyah demikian cinta dan setianya kepada Rasulullah sehingga begitu melihat junjungannya itu terancam bahaya, dia maju mengibas-ngibaskan pedangnya dengan perkasa sehingga dikenal dengan sebutan Ummu Umarah, adalah pahlawan wanita Islam yang mempertaruhkan jiwa dan raga demi Islam termasuk ikut dalam perang Yamamah di bawah pimpinan Panglima Khalid bin Walid sampai terpotong tangannya. Ummu Umarah juga bersama Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam dalam menunaikan Baitur Ridhwan, yaitu suatu janji setia untuk sanggup mati syahid di jalan Allah.
Nusaibah adalah satu dari dua perempuan yang bergabung dengan 70 orang lelaki Ansar yang berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam. Dalam baiat Aqabah yang kedua itu ia ditemani suaminya Zaid bin Ahsim dan dua orang puteranya: Hubaib dan Abdullah. Wanita yang seorang lagi adalah saudara Nusaibah sendiri. Pada saat baiat itu Rasulullah menasihati mereka, “Jangan mengalirkan darah denga sia-sia.”
Dalam perang Uhud, Nusaibah membawa tempat air dan mengikuti suami serta kedua orang anaknya ke medan perang. Pada saat itu Nusaibah menyaksikan betapa pasukan Muslimin mulai kocar-kacir dan musuh merangsek maju sementara Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam berdiri tanpa perisai. Seorang Muslim berlari mundur sambil membawa perisainya, maka Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam berseru kepadanya, “berikan perisaimu kepada yang berperang.” Lelaki itu melemparkan perisainya yang lalu dipungut oleh Nusaibah untuk melindungi Nabi.
Ummu Umarah sendiri menuturkan pengalamannya pada Perang Uhud, sebagaimana berikut: “…saya pergi ke Uhud dan melihat apa yang dilakukan orang. Pada waktu itu saya membawa tempat air. Kemudian saya sampai kepada Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam yang berada di tengah-tengah para sahabat. Ketika kaum muslimin mengalami kekalahan, saya melindungi Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam, kemudian ikut serta di dalam medan pertempuran. Saya berusaha melindungi Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam dengan pedang, saya juga menggunakan panah sehingga akhirnya saya terluka.”
Ketika ditanya tentang 12 luka ditubuhnya, Nusaibah menjawab, “Ibnu Qumaiah datang ingin menyerang Rasulullah ketika para sahabat sedang meninggalkan baginda. Lalu (Ibnu Qumaiah) berkata, ‘mana Muhammad? Aku tidak akan selamat selagi dia masih hidup.’ Lalu Mushab bin Umair dengan beberapa orang sahabat termasuk saya menghadapinya. Kemudian Ibny Qumaiah memukulku.”
Rasulullah juga melihat luka di belakang telinga Nusaibah, lalu berseru kepada anaknya, “Ibumu, ibumu…balutlah lukanya! Ya Allah, jadikanlah mereka sahabatku di surge!” Mendengar itu, Nusaibah berkata kepada anaknya, “Aku tidak perduli lagi apa yang menimpaku di dunia ini.”
Subhanallah, sungguh setianya beliau kepada baginda Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam.
Khaulah binti Azur (Ksatria Berkuda Hitam)
Siapa Ksatria Berkuda Hitam ini? Itulah Khaulah binti Azur. Dia seorang muslimah yang kuat jiwa dan raga. Sosok tubuhnya tinggi langsing dan tegap. Sejak kecil Khaulah suka dan pandai bermain pedang dan tombak, dan terus berlatih sampai tiba waktunya menggunakan keterampilannya itu untuk membela Islam bersama para mujahidah lainnya.
Diriwayatkan betapa dalam salah satu peperangan melawan pasukan kafir Romawi di bawah kepemimpinan Panglima Khalid bin Walid, tiba-tiba saja muncul seorang penunggang kuda berbalut pakaian serba hitam yang dengan tangkas memacu kudanya ke tengah-tengah medan pertempuran. Seperti singa lapar yang siap menerkam, sosok berkuda itu mengibas-ngibaskan pedangnya dan dalam waktu singkat menumbangkan tiga orang musuh.
Panglima Khalid bin Walid serta seluruh pasukannya tercengang melihat ketangkasan sosok berbaju hitam itu. Mereka bertanya-tanya siapakah pejuang tersebut yang tertutup rapat seluruh tubuhnya dan hanya terlihat kedua matanya saja itu. Semangat jihad pasukan Muslimin pun terbakar kembali begitu mengetahui bahwa the Black Rider, di penunggang kuda berbaju hitam itu adalah seorang wanita!
Keberanian Khaulah teruji ketika dia dan beberapa mujahidah tertawan musuh dalam peperangan Sahura. Mereka dikurung dan dikawal ketat selama beberapa hari. Walaupun agak mustahil untuk melepaskan diri, namun Khaulah tidak mau menyerah dan terus menyemangati sahabat-sahabatnya. Katanya, “Kalian yang berjuang di jalan Allah, apakah kalian mau menjadi tukang pijit orang-orang Romawi? Mau menjadi budak orang-orang kafir? Dimana harga diri kalian sebagai pejuang yang ingin mendapatkan surga Allah? Dimana kehormatan kalian sebagai Muslimah? Lebih baik kita mati daripada menjadi budak orang-orang Romawi!”
Demikianlah Khaulah terus membakar semangat para Muslimah sampai mereka pun bulat tekad melawan tentara musuh yang mengawal mereka. Rela mereka mati syahid jika gagal melarikan diri. “Janganlah saudari sekali-kali gentar dan takut. Patahkan tombak mereka, hancurkan pedang mereka, perbanyak takbir serta kuatkan hati. Insya Allah pertolongan Allah sudah dekat.
Dikisahkan bahwa akhirnya, karena keyakinan mereka, Khaulah dan kawan-kawannya berhasil melarikan diri dari kurungan musuh! Subhanallah…
Nailah si Cantik yang Pemberani
Nailah binti al-Farafishah adalah istri Khalifah Ustman bin Affan. Dia terkenal cantik dan pandai. Bahkan suaminya sendiri memujinya begini: “Saya tidak menemui seorang wanita yang lebih sempurna akalnya dari dirinya. Saya tidak segan apabila ia mengalahkan akalku.” Subhanallah!
Mereka menikah di Madinah al-Munawwarah dan sejak itu Ustman kagum pada tutur kata dan keahlian Nailah di bidang sastra. Karena cintanya, Ustman paling senang memberikan hadiah untuk istrinya itu. Mereka punya satu orang anak perempuan, Maryan binti Ustman.
Ketika terjadi fitnah yang memecah belah umat Islam pada tahun 35 Hijriyah, Nailah ikut mengangkat pedang untuk membela suaminya. Seorang musuh menerobos masuk dan menyerang dengan pedang pada saat Ustman sedang memegang mushaf atau Al Qur’an. Tetesan darahnya jatuh pada ayat 137 surah Al Baqarah yang berbunyi, “Maka Allah akan memelihara engkau dari mereka.”
Seseorang pemberontak lain masuk dengan pedang terhunus. Nailah berhasil merebut pedang itu namun si musuh kembali merampas senjata itu, dan menyebabkan jari-jari Nailah terputus Ustman syahid karena sabetan pedang pemberontak. Air mata Nailah tumpah ruah saat memangku jenazah sang suami. Ketika kemudian ada musuh yang dengan penuh kebencian menampari wajah Ustman yang sudah wafat itu, Nailah lalu berdoa, “Semoga Allah menjadikan tanganmu kering, membutakan matamu dan tidak ada ampunan atas dosa-dosamu!”
Dikisahkan dalam sejarah bahwa si penampar itu keluar dari rumah Ustman dalam keadaan tangannya menjadi kering dan matanya buta!
Sesudah Ustman wafat, Nailah berkabung selama 4 bulan 10 hari. Ia tak berdandan dan berhias dan tidak meninggalkan rumah Ustman ke rumah ayahnya.
Nailah memandang kesetiaan terhadap suaminya sepeninggalnya lebih berpengaruh dan lebih besar dari apa yang dilihatnya terhadap ayahnya, saudara perempuannya, ibunya dan juga kerabatnya. Ia selalu mendahulukan keutamaannya, mengingat kebaikannya di setiap tempat dan kesempatan. Ketika Ustman terbunuh, ia mengatakan, “Sungguh kalian telah membunuhnya padahal ia telah menghidupkan malam dengan Al Qur’an dalam rangkaian rakaat.”
Subhanallah yah, ternyata umat muslim juga memiliki jagoan wanita yang memang nyata adanya, semoga kita, para muslimah dapat mengambil teladan dari mereka, aamiin.
Sumber: • Al-Ekhlaas Islamic Page  dan Arrahmah.com

Mengenal Imaamul Muslimin Muhyiddin Hamidy : Pejuang Militan dan Konsisten Hingga Lanjut Usia

Hari terbaik, bahkan induknya hari, mengiringi adzan shalat Shubuh, menjadi waktu wafatnya Imaamul Muslimin Syaikh Muhyiddin Hamidy (81 tahun atau 84 tahun kalender Hijriyah), Lahir Sawah Lunto, Padang, Sumatera, 21 Desember 1933 atau tahun 1352 Hijriyah. Wafat pada Jumat 18 Shafar 1436 H. bertepatan 12 Desember 2014 M. sekitar pukul 04.15 Waktu Indonesia Barat (WIB), di kediaman almarhum Kompleks Pondok Pesantren Al-Fatah Al-Muhajirun, Desa Negararatu, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Indonesia.

Imaamul Muslimin Muhyiddin Hamidy (alm) – Dok Al-Fatah
Imaamul Muslimin Muhyiddin Hamidy (alm) – Dok Al-Fatah


Dunia Islam Berduka
Dunia Islam berduka atas wafatnya Khalifah kaum Muslimin, pemegang amanah pimpinan pembebasan Al-Aqsha hasil Konferensi Al-Quds Bandung 2012. Betapa, sebagian besar waktu hidup almarhum digunakan untuk menegakkan kalimah Allah, khususnya dalam memperjuangkan Al-Aqsha.

Kalimat-kalimat dukacita pun datang dari berbagai tokoh perjuangan dunia Islam, di antaranya, Syaikh Dr. Mahmoud Anbar, Dekan Ulumul Quran Universitas Islam Gaza, begitu mendengar berita duka tersebut, ia menyebutkan di akun jejaring sosialnya, “Syaikh Muhyiddin Hamidy, pemimpin yang hebat dan kuat, telah meninggalkan jejak-jejak kebaikan, terutama terkini seperti pembangunan Masjid An-Nubuwwah yang memfungsikan masjid sesuai tuntunan Nabi serta Shuffah Al-Quran Abdullah bin Mas’ud Online, pengajaran Al-Quran jarak jauh secara online”.

Menurut salah satu pengajar Shuffah Al-Quran dari Gaza melalui skype itu, almarhum merupakan pemimpin terbaik yang Allah pilih, wafat pada hari terbaik, pada waktu terbaik menjelang Shubuh, ujarnya, mengungkap kesedihan mendalam.

Sosok juang Syaikh Hamidy, disampaikan juga oleh Juru Bicara Harakah Jihad Islami Palestina di Jalur Gaza, Syaikh Omar Shallah, dalam siaran resminya, menyebutkan lurusnya pandangan almarhum, dalam melihat permasalahan muslimin, terutama masalah Al-Aqsha dan Palestina.

“Konsistensinya dalam perjuangan dan dalam sosialisasi Palestina dan Al-Aqsha, patut diteruskan,” katanya saat menyampaikan belasungkawanya melalui relawan Indonesia dari Jama’ah Muslimin (Hizbullah) di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Jumat (12/12/204).

Syaikh Dr. Aly Al-Abbasy, Imaam Besar Masjid Al-Aqsha di Al-Quds, Wilayah Tepi Barat, begitu menerima informasi wafatnya sahabat seperjuangannya, Syaikh Hamidy, langsung menyeru kepada jama’ah Masjid Al-Aqsha untuk mendoakannya dari kawasan bumi penuh berkah, dari kawasan Isra Mi’raj Nabi, kiblat pertama umat Islam, Al-Quds Palestina.

“Kami semua jamaah Masjid Al-Aqsha mendoakan agar Imaamul Muslimin Syaikh Muhyiddin Hamidy diberikan tempat yang tertinggi oleh Allah di syurga-Nya dan dipertemukan dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atas upayanya dan kecintaannya terhadap Al-Aqsha semasa hidupnya,” ujar Syaikh Abbasy.
Imaam Al-Aqsha Syaikh Aly al-Abbasy (kiri) dan Imaam Syaikh Muhyiddin Hamidy (kanan) – Dok. Al-Fatah
Imaam Al-Aqsha Syaikh Aly al-Abbasy (kiri) dan
Imaam Syaikh Muhyiddin Hamidy (kanan) –
Dok. Al-Fatah

 Al-Abbasy kenal dekat dengan almarhum saat mendapat undangan dari almarhum untuk menghadiri Konferensi Internasional tentang Pembebasan Masjid Al-Aqsa di Bandung pada tanggal 14-15 Sya’ban 1433 H. / 4-5 Juli 2012 M. lalu.

“Kami pernah diundang oleh Imaam Muhyiddin Hamidy untuk menghadiri konferensi internasional yang diikuti oleh aktivis Palestina dari berbagai negara bertempat di Bandung” ujarnya, memberikan penghargaan tertinggi atas beberapa kali upaya Imaam Hamidy menerobos ke Masjid Al-Aqsha dan berhasil shalat di dalamnya, termasuk waktu pelaksanaan Global March to Jerussalem (GMJ) tahun 2012.

Isteri Al-Abbasy, Ummi Aisyah, secara khusus mengirimkan ucapan belasungkawa melalui elekttronik mail ke Onny Firyanti, puteri bungsu almarhum.

“Salam, belasungkawa dari hati terdalam, semoga almarhum dimasukkan ke dalam surga,” ujar Aisyah.

Dari kawasan Asia, terkirim ucapan duka cita dari Ustadz Dr. Abdullah Abu Bakar al-Fathoni, atas nama Majlis Agama Islam Pattani, Thailand, yang secara resmi mengucapkan ta’ziyah belasungkawa atas wafatnya Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah), Syaikh Muhyiddin Hamidy pada Jumat (12/12/2014) kemarin.

“Kami para ulama khususnya di Pattani, Thailand, dengan ini mengucapkan ta’ziyah kepada semua keluarga Imaamul Muslimin, kaum muslimin di Indonesia, keluarga besar Al-Fatah di seluruh Indonisia, serta warga Jama’ah Muslimin (Hizbullah),” ujar Ustadz Abdullah, Mudir Ma’had At-Tazkiyyah ad-Diniyyah Yala, Pattani, yang berencana memenuhi undangan Imaam di Lampung dalam dialog Muslim Indonesia-Pattani, 21-22 Desember mendatang.

Walau belum terlalu lama kenal, baru sekitar setahun lalu, namun visi perjuangannya yang jauh ke depan, membuat ia merasakan kehilangan seorang tokoh ulama dunia.

“Semoga Imaam Hamidy dikumpulkan bersama dengan para Nabi, orang-orang sholeh, shiddiqin, dan para syuhada,” doanya.

Beberapa aktivis masalah Palestina mengungkapkan rasa duka senada, di antaranya datang dari Ustadz Herri Nurdi (Penulis buku-buku tentang Zionisme Internasional), Ustadz Ferry Nur (Ketua Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina/KISPA), Ustadz Agus Sudarmaji (Ketua Aqsa Working Group/AWG), dan lainnya.

Ustadz Ferry Nur bersama kaum muslimin di Jakarta bahkan melaksanakan shalat ghaib untuk almarhum di Masjid Metropilitan Jakarta, siusai shalat Jumat.

Naufal Mahfudz, Direktur Sumber Daya Manusia LKBN Antara, menambahkan saat berta’ziyah ke rumah duka, bahwa sosok almarhum merupakan organisatoris dan manajer ulung pada sebuah kantor berita besar Antara dan setelah pensiun di Kantor berita Islam MINA.

“Almarhum banyak memberikan contoh teladan untuk generasi berikutnya, yatu dengan kerja kerasnya, yang tak kenal lelah, serta kedisiplinan yang luar biasa dalam mengerjakan suatu program”, ujar Naufal.

Ia menambahkan, integritas dan spiritualitas yang luar biasa, juga menjadi bobot tersendiri pada almarhum, terutama di penghujung usianya dalam mengelola dan mengembangkan pesantren Al-Fatah, serta berdakwah yang tak kenal lelah hingga akhir ayat.

 Konsisten Hingga Akhir Hayat
 
Pada usia di atas 80 tahun bukanlah usia muda lagi untuk perjuangan umat dan dunia Islam tingkat dunia, yang bersifat rahmatan lil ‘alamin.


Imam pada Acara Konferensi Pembebaasan Masjid Al-Aqsa, Bandug Juli 2012 M
Imam pada Acara Konferensi Pembebaasan Masjid Al-Aqsa,
Bandug Juli 2012 M

Namun, bagi mantan Sekreteris Lembaga (Seklem) Lembaga Kantor Berita Nasional (LBKN) Antara Jakarta selama lebih kurang 15 tahun tersebut, serta terakhir Pembina Utama Pondok Pesantren Al-Fatah se-Indonesia tersebut, usia lanjut bukanlah halangan.

Usia boleh senja, namun bagi bekas wartawan Arab Press Buerau (APB) itu, dan terakhir Pemimpin Umum merangkap Pemimpin Redaksi Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency), semangat juangnya selalu konsisten bahkan terus menggelora manakala bicara perjuangan umat, nasib kaum Muslimin tertindas, ukhuwwah, apalagi kalau bicara soal Al-Aqsha Palestina.

Almarhum menggagas Konferensi Internasional untuk Pembebasan Al-Quds dan Palestina di bandung 2012, dan pendirian Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency) tahun 2012 juga dalam rangka menghadang hegemoni pemberitaan Barat yang cenderung mendeskreditkan Islam dan Muslimin.

Saat Soft Launching MINA, pada Hari Raya Idul Adha, Jumat, 10 Dzulhijjah 1433 H. / 26 Oktober 2012 M., Imaam almarhum menyampaikan fatwa pendirian MINA, yaitu MINA adalah juru bicara kaum muslimin dalam menunaikkan tugas dari Allah menyampaikan amar ma’ruf dan nahi mungkar.

“MINA adalah cahaya kebenaran, keadilan, keamanan, kedamaian, kejujuran serta amanah menurut Islam, dengan demikian maka ia adalah furqan (pembeda) antara haq dan bathil,” bunyi fatwa.

“Imaam Hamidy merupakan pejuang yang konsisten, militan, berwawasan luas dan tokoh pemersatu visi perjuangan umat,” ujar dr. Joserizal Jurnalis, Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), saat berta’ziyah ke rumah duka Jumat malam (12/12/2014), di tengah hujan rintik-rintik membahasi bumi Muhajirun, Lampung, membahasi pusara Imaamul Muslimin Muhyiddin Hamidy, yang terletak di samping rumahnya, tidak jauh dari Masjid At-Taqwa kompleks Pesantren Al-Fatah.

Menurut Jose, yang sedang merampungkan pembangunan dan alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, semangat Imaam almarhum patut menjadi contoh oleh aktivis pejuang muslim bahwa berjuang dari muda sampai usia lanjut.

Melalui amanah Imaam pula, terkirim tak kurang lebih 30 orang mujahid relawan kemanusiaan yang membangun RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Serta melalui amanah Imaam pula terkirim sekitar 30 relawan membangun perluasan Masjidil Haram, Mekkah al-Mukarramah.

Senada dengan itu, Ir. Farid Thalib, Kepala Divisi Pembangunan MER-C yang juga Pendiri Radio Silaturrahim (Rasil) menyebut, Imaam almarhum sebagai sosok yang menjadi inspirator, penggerak dan penyemangat yang selalu berapi-api dalam segala kebaikan, walau dalam usia senja.

“Almarhum Imaam Muhyiddin Hamidy adalah figur besar dalam melaksanakan dan menegakkan keadilan serta kebenaran di muka bumi ini,” papar Farid dalam ta’ziyahnya ke rumah duka.

Ia berharap, umat Islam dapat melanjutkan perjuangannya dalam pembebasan Al-Aqsha dan Palestina dengan bersatu.

“Selamat jalan Imaam, ya Allah terimalah seluruh kebaikannya dan ampunilah segala kekhilafannya,” doanya untuk penggagas Aqsa Working Group itu, sedih duka begitu mendalam terlihat dari raut mukanya.

Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga yang aktif dalam kegiatan keislaman, Dr. Adhyaksa Dault, yang juga dikenal dekat dengan almarhum, turut hadir dalam prosesi pemakaman almarhum, tidak sanggup mengungkapkan dengan kata-kata.

Ia hanya menangis tersedu-sedu hampir sepanjang prosesi pemakaman, saat ada yang menelepon, saat di dalam ruangan, ia terlihat sesenggukan menangisi kepergian Imaam yang juga ia sebut sebagai ayahandanya.

“Beliau dalam tiap pertemuannya selalu berbicara tentang bagaimana umat, umat dan umat Islam,” ujarnya.

Teringat saat ia berkordinasi dengan Imaam mengirimkan tim ukhuwah untuk bencana tsunami di Aceh tahun 2004 silam.

Waktu itu, Imaam bersama sejumlah 130 relawan kemanusiaan utusan Jama’ah Muslimin (Hizbullah), terjun langsung mengangkat mayat-mayat yang bergepimpangan akibat terjangan tsunami, untuk diurus dan dimakamkan sesuai syariat Islam.

Di Mata Keluarga
 
Ayahanda Muhyiddin Hamidy, adalah sosok ayah dari 7 anak (3 putera dan 4 puteri) serta kakek bagi 10 cucu itu, merupakan figur yang sangat dicintai dan dihormati di lingkungan keluarganya karena kebaikannya.

Dari isteri pertama, ibunda Djalius (alm), almarhum meninggalkan 4 anak: Medi Ali Usman (memiliki 2 anak), Ade Antilia (2 anak), Ritna Tria Andini (2 anak) dan Onny Firyanti.

Penulis bersama keluarga Imaamul Muslimin Muhyiddin Hamidy (alm). Dok Pribadi
Penulis bersama keluarga Imaamul Muslimin
Muhyiddin Hamidy (alm). (Dok Pribadi Sumber)

 Dari isteri kedua, Deri Kiemas (adik kandung Taufik Kiemas alm, mantan Ketua MPR RI), meninggalkan 3 anak : Siti Khadijah Nurillah (memiliki 1 anak), Abu Bakar Siddiq, dan Ahmad Tawakkal Ramadhan ( 3 anak).

Dari isteri ketiga Ummi Hanifah al-Hafidzah, tidak punya anak.

“Saya sebagai isteri, beliau menyaksikan, betapa beliau tidak pernah melupakan shalat malam, di samping shalat dhuha tiap pagi dan shaum Senin Kamis tiap pekan,” ujar Ummi Hanifah isterinya.

Kebiasaan lainnya dari Imaam menurutnya adalah bershadaqah tiap hari Jumat, kadang untuk jariyah masjid, memberi makan kaum dhuafa atau memberi kepada seseorang.

Memang, di balik ketegasannya dalam masalah prinsip, konsistennya dalam urusan kebaikan dan kebenaran, serta militansinya dalam perjuangan, terdapat sifat kasih sayang almarhum kepada makmum yang dipimpinnya.

Banyak di antara asatidz dan dewan imaamah yang ia bantu untuk urusan ibadah, seperti bantuan membangun rumah, pemberian uang untuk keperluan kuliah, hingga memberangkatkan haji dan umrah semasa aktif di kedinasan.

Penulis turut menyaksikan, betapa almarhum tidak segan-segan mengantar atau menjemput alumni pesantrennya yang akan kuliah atau baru tiba dari kuliah di luar negeri.

Penulis, juga beberapa rekan Penulis yang Penulis ketahui, seringkali mendapatkan kiriman bingkisan, titipan dari Imaam, kadang berupa nasi kotak, makanan ringan, buku, hingga berupa uang.

“Satu lagi yang selalu diperhatikan almarhum adalah program Tahfidz Al-Quran di pesantrennya,” papar Hanifah.

Maka, tidak heran jika di rumahnya di Muhajirun Lampung, berkumpul puluhan santri penghafal Al-Quran, yang hampir 24 jam mengumandangkan ayat-ayat Allah, firman-firman-Nya, Al-Quranul Karim.

Onny Firyanti, puteri bungsu almarhum, merasa paling terpukul dengan kepergian ayahandanya tercinta, gurunya, mentornya, sekaligus pembimbingnya.

“Papa jika bicara dan bertemu anak-anaknya selalu yang dibicarakan adalah bagaimana ajaran Islam dijalankan, kami anak-anak muslimatnya agar menutup aurat sebagai kewajiban, dan agar thaat pada perintah Allah dan Rasul-Nya,” ujar Onny, sapaan akrabnya.

Menurutnya, ayahnya jika mengirimkan pesan singkat melalui sms biasanya jam 3 pagi. Jika tidak membalas, nanti pagi ditelepon mengingatkan tidak shalat tahajud ya? paparnya.

Hal lainnya, dalam dua pekan terakhir ini sebelum wafatnya, hampir tiap hari ia ditelepon ayahnya soal pembangunan Masjid An-Nubuwwah, sebagai pusat peradaban dunia Islam.

“Papa selalu mengajak kami anak-anaknya ke jalan kebaikan,” paparnya mengenang.

Apalagi, tambahnya, kalau sudah bicara Palestina, Al-Aqsha, ayahnya paling antusias, bicara Al-Aqhsa, Rumah Sakit Indonesia di Gaza, dan kewajiban berjuang membebaskannya dari belenggu penjajahan Zionis Israel.

“Siapa lagi yang akan membebaskan Al-Aqsha kalau bukan kita umat Islam,” imbuhnya, menirukan pesan ayahnya sekaligus Imaam kaum muslimin.

Satu keinginan yang belum kesampaian dari ayahnya, yakni ingin berkunjung ke Gaza, untuk ikut meresmikan RS Indonesia di sana bersama MER-C.

Adapun di mata cucu-cucunya, sang opa begitu biasa disapa di tengah cucu-cucunya, kakeknya merupakan teladan bagi generasi muda.

“Opa orangnya kharismatik, selalu memotivasi untuk berbuat baik,” ujar Balqis Ra Aisyana (24), cucu pertama almarhum.

Menurutnya, kakeknya selalu mengingatkan soal shalat, mengaji dan menutup aurat.

Hal senada dirasakan cucu lainnya, Lulu Jannata (22), yang menyebutkan kakeknya sebagai sosok yang tegas dan sisiplin dalam segala hal.

“Kalau sudah punya mau, pokoknya harus, tapi itu kemauan yang manfaat,” katanya lagi.

Masih menurut Lulu, kakeknya, paling sering memberikan hadiah kepada cucu-cucunya buku-buku bacaan yang bermanfaat.

Mereka semua kini merasakan ada yang hilang dari kehidupannya, ada yang pergi dari lingkungannya, ada yang melayang dalam pelukannya.

Tapi bukan hilang ke mana-mana, melainkan kembali kepada sang penciptanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah menyebutkan di dalam firman-Nya, “Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian”. (Q.S. Ali Imran [3] : 185).

Itu bunyi ayat yang disampaikan oleh Ustadz K.H. Abul Hidayat Saerodjie, salah seorang sesepuh di Pesantren Al-Fatah, saat memberikan nasihat terakhir di pemakaman almarhum.

“Yang paling penting bagi kita anak cucunya, keluarganya, dan makmum semuanya, adalah meneruskan kebaikannya,” nasihat Ustadz K.H. Adzro’i Abdus Syukur, pada malam ta’ziyah di kediaman almarhum, Sabtu malam (13/12/2014).

Pada kesempatan ta’ziyah, menyabarkan keluarga armarhum yang ditinggalkannya, Penulis sempat menyampaikan In Memorian riwayat hidup amal kebaikan almarhum semasa hidupnya, guna mengenang segala kebaikannya serta meneruskannya dalam kehidupan nyata.

Meminta Maaf
 
Penulis merasakan saat-saat terakhir berjumpa almarhum Rabu lalu (10/12/2014) di ruang tamu kediamannya di Muhajirun, Lampung, dua hari menjelang wafatnya.

Saat itu, Penulis, almarhum Imaam Hamidy, dan isteri beliau Ummi Hanifah al-Hafidzah, di ruang tamu, sambil duduk tiduran, almarhum mengatakan,”Ustadz, Jazakallahu khaira, ustadz dan ikhwan-ikhwan sudah banyak membantu kami, Imaam banyak minta maaf,” ujar Imaam dengan suara lirih sambil tersenyum cerah.

Imaam M.Hamidy (alm). Dok Pribadi
Imaam M.Hamidy (alm). (Dok Pribadi Sumber)

 “Alhamdulillah….Imaam, kalau saya masih jauh, belum banyak bantu Imaam, kami yang seharusnya minta maaf,” kata Penulis lagi.

Sebelumnya, saat menelepon Amir Ukhuwah Pusat, Haji Abdul Malik alias Bustamin Utje, terkait kedatangan siswa-siswa Imtiaz Malaysia ke Al-Fatah Lampung, Imaam juga meminta maaf kepada Bustamin atas kurangnya koordinasi penyambutan tamu.

Setelah itu, masih sambil tiduran, Imaam menyampaikan beberapa hal untuk dicatat Penulis, yang kemudian Penulis ketik sampai empat halaman hvs, sebagai bahan musyawarah Dewan Imaamah yang direncanakan pada liburan akhir tahun 2014 mendatang.

Alhamdulillah notulen itu sudah Penulis sampaikan kepada Imaam Yakhsyalah Mansur, pelanjutnya, melalui Majelis Kutab Pusat Jama’ah Muslimin (Hizbullah).

Imaampun berbicara mulai dari soal tanggung jawab muslimin menghadapi situasi dalam dan luar negeri, pembangunan Masjid An-Nubuwwah, kantor berita Islam MINA, Shuffah Al-Quran, dakwah ke Thailand, kerjasama Istambul, Kedutaan Turki, nasib Al-Aqsha, semakin kejamnya Zionis, perpustakaan multimedia, hingga film dokumenter Perang Khaibar.

Masih terdengar Penulis mencatat pesannya, “Jangan lupa juga, surat untuk Menteri Dalam Negeri Malaysia dan Surat Keputusan Wilayah Malaysia-Batam”.

Seolah Imaam hendak mengemukakan semua ide-idenya, cita-citanya, harapan-harapannya, dan semua niat amal sholehnya.

“Itu semua pekerjaan-pekerjaan besar, terutama Shuffah Al-Quran, yang dapat mempengaruhi kebaikan dunia, dan itu Khilafah,” ujar Imaam mengakhiri kalimatnya.

Almarhum melanjutkan, Al-Quran merupakan sumber hukum tertinggi, pedoman hidup manusia. Maka, Shuffah Al-Quran menjadi wajib untuk diwujudkan.

“Ekstremnya, majelis yang lain boleh tidak ada, tetapi Shuffah Al-Quran wajib ada,” pesannya.
Lalu, almarhum bangun, dan menyampaikan pamit mau ke belakang. Tangan beliau yang lembut Penulis cium, hangat, tenang, serta Penulis diizinkan untuk kembali ke Ciluengsi, Bogor, karena memang sudah diizinkan sebelumnya.

Penulis sampaikan pada Kamis siang mengisi tausiyah di Batu Tulis Bogor, Kamis malamnya mengisi pengajian karyawan di Pasar Kenari Cileungsi, dan Jumat sorenya Jadwal Bedah Berita MINA di Radio Silaturrahim Cibubur.

“Insya Allah selesai acara tersebut, kami segera kembali, Imaam,” izin Penulis.

Memang sebelumnya Penulis sepulang dari safari Dakwah Malaysia-Pattani, Thailand, dipanggil Imaam beberapa hari untuk menyampaikan laporan perjalanan. Penulis datang ke Muhajirun Ahad (8/12) sampai Rabu (11/12) pamitan.

Ya, Allah…. rupanya itulah pertemuan terakhir Penulis dengan Imaamul Muslimin Syaikh Muhyiddin Hamidy.

Begitu mendengar berita Jumat pagi ba’da shubuh Imaam dipanggil ke haribaan-Nya. Penulis dan Dewan Imaamah di Cileungsi, Bogor pun bergegas pagi itu juga terbang ke kampung Islam Internasional Muhajirun, menemui Imaamul Muslimin Muhyiddin Hamidy, yang telah menjadi jenazah.

“Innaalillaahi wa innaa ilaihi rooji’un….. Sesungguhnya kita semua milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya lah jua kita akan kembali”….

Penulis hanya dapat menyalatkan, mengantar ke pusaranya sebagai penghormatan  terakhir, dan mendoakannya, setelah sebelumnya Penulis sempat mencium wajahnya yang harum, bersih, bercahaya… Subhanallah.

“Selamat jalan wahai penghuni syurga, izinkan aku kelak bersamamu di syurga-Nya. Amin,” doa Penulis dalam hati.

Jenazah Imaam Muhyiddin Hamidy saat sebelum dimakamkan, disemayamkan di rumah duka, Muhajirun, Lampung, Jumat (12/12/2014). Dok Pribadi
Jenazah Imaam Muhyiddin Hamidy saat sebelum dimakamkan,
disemayamkan di rumah duka, Muhajirun, Lampung,
Jumat (12/12/2014). (Dok Pribadi Sumber)

 Saat Terakhir
 
Menurut keterangan isterinya, Ummi Hanifah, sepekan sebelum wafatnya, almarhum sempat menangis di kamar tidur, di hadapannya.

“Masya Allah, betapa beratnya urusan ummat yang harus Imaam tanggung, Shuffah Al-Quran, Masjid An-Nubuwwah, Kantor Berita Islam MINA, Tarbiyah Al-Fatah, urusan Haji Umrah ikhwan-ikhwan,…..”, ujar almarhum Imaam masih sambil menangis sendiri, menitikkan air mata, betapa tanggung jawabnya kelak di akhirat.

Adapun saat-saat terakhir menjelang wafatnya penggagas satu rumah satu hafidz itu, seperti menurut keterangan keluarga almarhum dan ikhwan yang sempat menemani almarhum sebelum wafatnya, almarhum merasakan sakit di dada sebelah kiri pada Kamis siang menjelang Dzuhur (11/12/2014).

Tatang Syahria (47 th) dan Mukhsin AR (67 th), staf pembantu rumah tangganya dipanggil menemuinya di kamar.

Tatang menawarkan Imaam untuk berobat di Rumah Sakit Medistra di Jakarta saja, yang selama ini biasa menangani sakit beliau, dengan para dokter spesialis yang biasa menangani almarhum semasa hidupnya.

“Iya Tang, tapi Imaam masih ingin di Muhajirun,” ucap Imaam saat itu, seperti dituturkan Tatang.

Jalan keluarnya, sore itu pula Tatang minta bantuan seorang paramedis Iin Mutmainnah (isterinya Nur Ikhwan Abadi, relawan RS Indonesia di Gaza), segera diantar ke dokter spesialis jantung di Pahoman, Bandar Lampung, ditemani Akmalul Iman sebagai sopir dan Ummi Hanifah, isterinya. Di belakang mengawal mobil ukhuwah, terdiri dari Nurul (sopir), Ismail, Harun dan Mukhsin.

Setelah diperiksa dan mendapatkan perawatan medis, kondisinya agak membaik, dan almarhum  beserta ikhwan lainnya kembali ke rumah Muhajirun.

Di sepanjang perjalanan, biasa saja, duduk dengan tenang, bahkan masih bicara lancar, mengajak ke rumah makan karena semua memang belum pada makan, dan beliau yang bayar.

Sampai di rumah sekitar pukul 22.00 malam, shalat Maghrib dan Isya jama’ ta’khir.

“Sepertinya beliau nggak tidur sejak saya beranjak tidur sekitar jam 00.30,” ujar kesaksian Ummi Hanifah, isterinya.

Masih menurutnya, almarhum bahkan yang membangunkan dirinya sekitar jam 03.00 dini hari, mengingatkannya untuk shalat tahajud.

Saat itu, almarhum sudah shalat tahajud sambil duduk di kursi. Almarhum masih dapat berjalan kecil untuk berwudhu dengan air zam-zam, seperti kebiasannya.

“Saya rasakan masih ada bekas air wudhunya, menempel pada kain ihram di bawah kursi, yang biasa beliau gunakan untuk mengelapnya,” tutur Hanifah.

Menurut isterinya, Ummi Hanifah, alhafidzah 30 juz Al-Quran, kebiasaan Imaam memang tidak pernah meninggalkan shalat tahajud tiap malam.

Selang beberapa menit setelah shalat tahajud, Imaam terdengar lirih merintih pelan sambil memegang dadanya.

Segera dipanggilkan Mukhsin yang sedang ukhuwah jaga di ruang tengah. Setelah masuk ke kamar, dipanggil juga Tahsya, anak tahfidz muslimah Al-Quran yang tinggal di kamar belakang.

Setelah dipijit-pijit, mulai agak mendingan, tapi tidak ada komunikasi apapun.

Hanya terucap pelan kalimah Imaam, “Allah, ya Allah astaghfirullah, ampunilah aku, ampunilah aku, ampunilah aku…”, tiga kali terdengar, kata Mukhsin.

Setelah itu, agak tenang mendingan. Mukhsin izin ke isteri Imaam, mau shalat witir dulu di ruang tengah, menjelang shubuh.

Sekitar pukul 04.00 WIB, Hanifah memanggil Tatang, untuk segera ke kamar karena Imaam merasakan sakit lagi. Bergegas tatang masuk ke kamar, sedangkan Mukhsin menyususl lagi seusai shalat witir
.
Saat adzan Shubuh berkumandang, pukul 04.15 WIB, kondisi almarhum sudah tidak ada respon bicara, tapi nadi di leher dipegang masih ada denyut, tapi sangat pelan, sangat lemah, sangat lemah.

Mukhsin meminta isteri almarhum yang memang hafidz Al-Quran, untuk menalqinkannya dengan kalimah “Laa ilaaha illallaah,… Laa ilaaha illallaah,…”.

Menurut keterangan Mukhsin, sempat terdengar seperti jawaban dehem atau batuk kecil dua kali.

Bergegas, Tatang, Mukhsin dan ikhwan yang menjaga segera mengantar mengangkat almarhum ke dalam mobil untuk segera dibawa ke Rumah Sakit Natar Medika, sekiar 4 km dari kompleks Pesantren.

Tatang, yang puluhan tahun ikut bersama almarhum Imaam Hamidy ke manapun almarhum pergi, mulai tak kuasa menahan tangis, tetesan air mata mulai mengalir di wajahnya,… sambil memeluk dan membopongnya, dibantu Mukhsin lainnya yang kemudian datang untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.

Sesampai di Rumah sakit Natar Medika, sekitar 4 km dari kediaman almarhum, menurut dokter jaga, almarhum sudah tidak ada, sudah meninggal, kemungkinan di kediaman.

Kepergiannya terasa begitu tiba-tiba. Sakitnya memang sudah lama, beberapa kali masuk rumah sakit. Tapi rupanya almarhum, seperti kebanyakan orang tua, tidak mau merepotkan orang lain.

Isterinya dan ikhwan-ikhwan yang ada di situpun menangis sesenggukan….. Mukhsin, abah Tatang paling keras tangisannya, memeluk erat janazah almarhum…… Imaam…. Imaam….

“Innaalillaahi wa innaa ilaihi rooji’un….. Sesungguhnya kita semua milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya lah jua kita akan kembali”….

Menyusul ke rumah sakit, setelah shalat Shubuh, Ustadz Yakhsyallah Mansur usai mengimami shalat Shubuh di Masjid at-Taqwa Kompleks Pesantren Al-Fatah Muhajirun. Setelah sebelumnya meminta jamaah shalat Shubuh mendoakan almarhum. Ia ditemani Waliyul Imaam Lampung, Ir. Novirzal dan Ir. Wahyu Iwa Sumantri.

Husnul Khatimah
 
“Sepekan menjelang wafatnya, Imaam selalu ramah, banyak minta maaf, bahkan berhumor dengan ikhwan-ikhwan,” ujar Ummi Hanifah al-Hafidzah isteri beliau.

Firasat itu sebenarnya sudah dirasakan oleh Ummi Hanifah, saat Kamis malam itu almarhum banyak mengeluarkan keringat.

“Kalau keluar keringat begini seperti Rasulullah, berarti sudah dekat,” ujar Imaam kala itu.

Kini firasat itu baru terasa menjadi kenyataan setelah terjadi. Termasuk Penulis, biasanya kalau Imaam memberikan perintah notulen, seperti Rabu dua hari menjelang wafatnya, kadang sehari sampai 2-3 kali Imaam menelepon atau sms menanyakan sudah selesai belum? Penulis sendiri mau telepon atau sms, khawatir mengganggu juga, barangkali sedang istirahat karena sakit.

Akhirnya, memang almarhum sedang istirahat, bahkan kini istirahat selama-lamanya, meninggalkan semuanya, meninggalkan keluarganya, meningalkan ikhwan akhwatnya, untuk menemui Tuhannya. Dan ia, seperti kebiasaan orang-orang tua terdahulu, tidak mau merepotkan pada ujung usianya….

Teringat kan firman Allah, “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan puas lagi diridhai-Nya, Masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam syurga-Ku”. (Q.S. Al-Balad ayat 27-30).

Kita semua keluarga, makmum dan kaum muslimin merasa kehilangan pemimpin umat, kehilangan orang tua, kehilangan penasihat utama.

Ia menemui Tuhannya pada hari terbaik Jumat pagi, pada waktu terbaik setelah shalat tahajud mengirirngi adzan Shubuh, dengan keringat mengantarkan kepergiannya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda di dalam dalam hadits riwayat Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhu, yang artinya, “Tidak ada seorang muslim yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at, kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.”

Pada hadits lain dinyatakan, yang maknanya, “Seorang mukmin apabila meninggal dunia, maka mengeluarkan keringat dari keningnya”.  (H.R. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dari Buraidah bin Khusaib Radhiyallahu ‘Anhu).

Apalagi almarhum kemudian dishalatkan di masjid oleh ribuan kaum muslimin dan muslimat, oleh santriwan-santriwati, oleh para umara dan ulama, oleh kaum fuqara dan dhu’afa, serta oleh para penghafal Al-Quran. Subhanallaah.

Ustadz Yakhsyallah Mansur, yang kemudian hari itu juga dibai’at sebagai Imaamul Muslimin, memimpin prosesi pemakaman almarhum, setelah sebelumnya dimandikan, dikafankan dan dishalatkan oleh ribuan jamaah yang hadir.

“Badan almarhum saat dimandikan sangat bersih, tidak ada sedikitpun bekas jatuh,” ujarnya, yang ikut memandikan jenazah.

Mengantar ke pemakaman terakhir alm Imaam Muhyiddin Hamidy, Jumat (12/12/2014). (Dok Pribadi)
Mengantar ke pemakaman terakhir alm
Imaam Muhyiddin Hamidy, Jumat (12/12/2014).
(Dok Pribadi Sumber)

 Seorang makmum nun jauh dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, Ardansyah mengirimkan pesan duka melalui pesan singkat kepada Penulis, Sabtu (13/12/2014), pukul 15.02 WIB. Isinya, “Hari kemarin dan hari ini terasa sangat berat, separuh jiwaku terasa hilang bersamaan dengan hilangnya Imaamul Muslimin tercinta. Wajah pucat dan muram masih berselimut di wajahku. Namun, itu takkan membuatmu kembali ke hadapanku.

Aku rindu padamu, aku rindu mencium tanganmu, aku rindu cambukan nasihatmu, aku rindu pelukan hangatmu. Aku tak percaya hal ini benar-benar terjadi. Kini aku benar-benar kehilangan dirimu.

Namun aku berharap ini hanya sementara, semoga Allah mengumpulkan aku bersama dirimu wahai Imaamku, mujahid ikhlasku, pejuang kesatuan ummatku. Aku ingin kelak bertemu di syurga-Nya, denganmu Wahai Imaam yang kubanggakan.

Wahai Imaam, maafkan diriku, aku tak sempat memberimu kebahagiaan menjadi kader yang baik dan belum mengharumkan nama Jama’ah Muslimin. Aku masih menjadi kader biasa-biasa saja. Bahkan masih jauh dari kata bermanfaat bagi ummat.

Ya Allah ya Rabb, untuk itu bantulah hamba-Mu ini agar bisa mengikuti jejak Nabi, para sahabat dan Imaam tercinta almarhum. Amin.

Sumber : Mi'raj Islamic News Agency (MINA) | Al-Fatah